Pakar IPB University Beberkan 4 Fakta Timun Suri, Pelengkap Sajian di Bulan Ramadhan


Bulan Ramadhan identik dengan menu-menu khas untuk berbuka puasa. Satu diantaranya adalah es timun suri. Buah ini memenuhi hampir berbagai sudut pasar buah ketika bulan Ramadhan tiba. Timun suri memiliki keunggulan karena budidayanya mudah dan tidak membutuhkan waktu lama yakni sekitar 40-60 HST (Hari Setelah Tanam). Sementara itu, terdapat beberapa fakta menarik tentang buah timun suri yang perlu diketahui oleh khalayak, baik dalam menambah ilmu pengetahuan maupun sebagai referensi mengonsumsi timun suri.

Hal ini diulas secara ilmiah oleh Dr Deden Derajat Matra, Dosen IPB University dari Departemen Agronomi dan Hortikulura, Fakultas Pertanian. Berikut fakta menarik tentang timun suri yang diungkapkan Dr Deden.
 
Menurut Dr Deden, timun suri sebenarnya bukan timun. Berdasarkan klasifikasi ilmiah, timun suri sebenarnya bukan termasuk timun karena morfologi, kariotipe kromosom dan struktur buah timun suri lebih dekat dengan melon.
 
Mengonsumsi timun suri setiap hari, menurut Dr Deden tidak berbahaya. Dalam penjelasannya disampaikan bahwa timun suri memiliki kandungan gula yang didominasi dari jenis fruktosa. Nah fruktosa ini merupakan jenis gula yang aman sehingga bagus untuk kesehatan terutama untuk penderita diabetes dengan konsumsi normal.

Selain manfaatnya, Dr Deden juga ajarkan cara aman mengkonsumsi timun suri. Menurutnya, semakin orange (warna timun suri) maka menunjukan kandungan betakaroten (sebagai provitamin A) lebih banyak.

“Di pasaran, kondisi timun suri yang merekah atau retak, biasanya juga dikatakan "meletek" dianggap sebagai pertanda matang dan lebih nikmat dibandingkan yang tidak meletek. Saya perlu meluruskan hal ini. Timun suri yang meletek (cracking) itu sebenarnya dapat disebabkan oleh beberapa hal. Yaitu kekurangan hara kalsium sehingga bagian terluarnya rapuh dan tidak kuat. Faktor kedua, dapat disebabkan oleh kadar air tanah yang tinggi sehingga pecah buah. Konsumsi timun suri dalam keadaan meletek justru perlu berhati-hati karena kondisi fisik buah berpeluang besar terinfeksi bakteri yang berbahaya untuk sistem pencernaan," ujar Dr Deden.

Dari panen hingga dikonsumsi, timun suri tidak dapat lama disimpan pada suhu biasa. Hal tersebut disebabkan proses respirasi berkurangnya air yang semakin cepat. "Waktu segar penyimpanan adalah satu minggu, dapat lebih lama jika disimpan pada suhu rendah di dalam kulkas," tambahnya. (SMH/Zul)

 



Published Date : 17-Apr-2021

Resource Person : Dr Deden Derajat Matra

Keyword : Timun suri, Dosen IPB University, Fakultas Pertanian