Kejernihan


Minal Aidin Wal Faizin. Atas nama pribadi, keluarga, dan IPB saya memohon maaf lahir dan batin. Semoga kita semua tergolong orang yang kembali kepada fitrah, yakni yang memiliki kejernihan multidimensi.

Pertama, adalah kejernihan personal, berupa kejernihan hati, pikiran, dan spiritual. Kejernihan hati tercermin dari keikhlasan kita memberi maaf kepada orang yang menzalimi kita, menolong orang yang tidak pernah menolong kita, dan menjalin silaturahmi dengan orang yang telah memutus silaturahmi. Inilah ciri kebesaran umat Nabi Muhammad SAW, yang hidup tanpa dendam dan prasangka.

Kejernihan pikiran tercermin dari keterbukaan pikiran menerima ilmu pengetahuan dari siapa pun, yang menganggap setiap sudut semesta alam adalah sekolah dan setiap orang adalah guru. Ia adalah pembelajar sejati terhadap setiap fenomena alam dan sosial. Inilah sosok Ulul Albab sebagaimana QS Ali Imran :190.

 Era Pandemi Covid-19 adalah momentum untuk melakukan refleksi dan mencoba menjadikan rumah dan halaman rumah adalah sekolah, dan setiap orang di sekeliling kita adalah guru. Inilah hakekat merdeka belajar. Disinilah pendidikan induktif berkembang, dan ilmu pengetahuan akan semakin tumbuh. Seiring dengan pendidikan induktif ini, maka kita sadar bahwa ilmu kita  hanyalah seperti setetes air dari lautan samudera. Kesadaran inilah membuat kita terus belajar dan belajar. Mental pembelajar sejati inilah yang sangat diperlukan di era disrupsi. Hanya kaum pembelajar yang akan bisa adaptif terhadap perubahan. Namun konteks hari ini memerlukan tidak sekedar pembelajar melainkan pembelajar yang cepat, tangguh, dan tangkas.

Dengan menyadari bahwa posisi kita sebagai khalifah di muka bumi yang memiliki tugas membawa rahmat bagi seluruh alam, maka tugas sebagai pembelajar bukanlah sekedar mendapatkan ilmu, namun proaktif mengamalkan ilmu untuk perubahan yang lebih baik. Inilah pembelajar transformatif, yang ingin terdepan dalam menciptakan perubahan. Karena itu orientasi pada future practice melekat pada pembelajar transformatif itu. Orientasi pada future practice merupakan cerminan kita meniru sifat Allah dalam asmaul husna, yaitu Al Badii’, yang berarti maha pencipta. Bila kita meniru sifat Al Badii’ berarti kita punya tugas untuk selalu berinovasi. Inovasi inilah taruhan kemajuan bangsa.

Kejernihan spiritual adalah penguatan kesadaran akan kemahabesaran Allah SWT. Menghadapi virus corona saja, manusia sedunia semakin tampak rentan. Hanya karena satu makhluk hidup kecil ini membuat hidup sedunia terguncang. Artinya ilmu kita belum seberapa, dan mestinya membuat kita semakin rendah hati dan mengakui bahwa Allah Maha Berilmu. Inilah ciri Ulul Albab, yakni menyelaraskan pikir dan zikir. Bagi ulul albab, semakin kencang daya pikir maka akan semakin kencang pula daya zikirnya. Ini karena kencangnya daya pikir semakin menyadarkan makin luasnya ruang ketidaktahuan kita.

Kedua, adalah kejernihan sosial, yang dicirikan dari agregasi kejernihan personal. Ketika orang-orang baik dengan kejernihan personal berkumpul maka insya Allah kejernihan sosial akan tercipta. Kejernihan sosial direfleksikan dengan relasi-relasi sosial yang penuh nilai kemanusiaan dan rasa saling percaya. Tentu kita bersyukur bahwa Indonesia menempati posisi 10 dalam Indeks Kedermawanan Global (Global Giving Index) 2020.  Ini menunjukkan bahwa orang-orang Indonesia memiliki kepedulian sesama. Agregasi kejernihan personal membuahkan perilaku dermawan secara kolektif.

Wujud konkrit lainnya adalah kuatnya modal sosial, dengan komponen utama rasa saling percaya (trust) dan silaturahmi (network) yang berujung pada terciptanya high trust society, seperti kata Fukuyama. Dua komponen ini hanya terbangun oleh agregasi kejernihan personal, baik hati, pikiran, dan spiritual. Umumnya negara-negara maju memiliki modal sosial tinggi. Artinya, modal sosial adalah modal untuk kemajuan. Dalam suasana masyarakat yang penuh rasa saling percaya maka kolaborasi dan kreativitas akan semakin tumbuh berkembang, dan ini bisa mendorong tumbuhnya inovasi. Momentum pandemi ini mesti menjadi momentum untuk berinovasi agar keluar dari krisis.

Ketiga, adalah kejernihan institusional, yang tercermin dari kuatnya pedoman berperilaku untuk  memperkuat kejernihan personal dan sosial. Institusi adalah pengatur perilaku di semua bidang baik pendidikan, ekonomi, keluarga, politik, dan bidang lainnya. Bagi kampus maka wujud pengaturannya melalui good university governance. Bagi kampus, kejernihan institusional sangat penting untuk menjamin bahwa orang-orang di dalamnya memiliki kejernihan hati, pikiran, dan spiritual. Contohnya adalah bagaimana kampus mampu melembagakan aktivitas pembelajaran dan inovasi sehingga menghasilkan kaum pembelajar dan inovator tangguh. Juga, bagaimana kampus menciptakan ruang-ruang berbagi inspirasi. Namun pada saat yang sama terlembagakan pula upaya menumbuhkan budi luhur dan integritas.

Tentu kampus tidak hanya sampai pada menjaga kejernihan personal di atas, melainkan juga mendorong orang-orang di dalamnya mampu mentransformasikan kejernihan personalnya ke dalam kehidupan sosial sehingga tercipta tatanan sosial yang baik. Dan, tatanan sosial yang baik terus mengontrol perilaku orang agar tetap jernih. Jadi ada hubungan timbal balik antara kejernihan personal, sosial, dan institusional. Ketiga dimensi kejernihan tersebut bersifat interaktif dan dinamis.

Pandemi Covid-19 ini telah merombak tatanan kehidupan dan bahkan menjadi titik masuk bagi konstruksi peradaban baru. Karena itu Idul Fitri 1442 H harus dimaknai bukan sekedar pencapaian kejernihan interpersonal melalui bermaafan dan silaturahmi virtual, tetapi merupakan pencapaian kejernihan multi dimensi. Karena pencapaian kejernihan multidimensi inilah merupakan jembatan emas menuju titik peradaban baru.

Bogor, 18 Mei 2021

Arif Satria