5 Pesan Rektor IPB


Ada 5 pesan dan harapan saya pada alumni IPB pada Forum Silaturahmi Alumni (FSA) IPB, 19 September 2020.

Pertama, Alumni IPB harus kompak, solid, saling membesarkan, dan jangan ada konflik yang tidak perlu di media sosial. Ingat pepatah Jawa “kalah wirang menang orang kondang” yang artinya kalah malu dan menang tidak dapat apa-apa.

Kedua, Alumni IPB harus percaya diri dan bangga pada almamater. Kita harus bangga dengan karya almamater kita. Banggalah dengan apa yang kita miliki dan kita capai. Nampaknya bagi mereka yang inferior, seolah kita ditakdirkan sebagai follower dan tertinggal selamanya. Tidak ada keberanian untuk menjadi yang terdepan. Inilah ciri-ciri mental inferior yang harus kita pupus.

Ketiga, Alumni IPB harus menjadi pelopor pembangunan Agro-Maritim 4.0. Pandemi Covid-19 adalah momentum untuk menunjukkan pada dunia bahwa sector agro-maritim adalah solusi. Sektor ini yang masih tumbuh positif, dan karenanya harus kita wujudkan kemandirian pangan. Jaringan alumni IPB merupakan asset bangsa untuk menunjukkan hal tersebut.

Keempat, Alumni IPB harus menjadi sumber terbaik inovasi dan inspirasi. Dunia terus berubah. Inovasi kita juga harus tumbuh dan berubah. Mari terus berinovasi dengan daya manfaat yang lebih besar lagi. Kuncinya adalah kreativitas, future mindset, kolaborasi, dan berani bermimpi. Mimpi besar akan menghasilkan inovasi besar. Tebarlah selalu inspirasi. Jadikan pertemuan dan silaturahmi sebagai arisan inspirasi. Inspirasi akan membuat kita optimis dan percaya diri.

Kelima, Alumni IPB harus menjadi bagian dari masa depan. Kata Abraham Lincoln, “the Best way to predict the future is to create it”. Menciptakan masa depan hari ini hanya bisa terjadi kalau kita punya inspirasi dan inovasi. Keduanya berasal dari sebuah mimpi. Mimpi tidak lah muncul saat kita tidur, tapi saat kita sadar. Untuk menjadi bagian dari masa depan kita harus fokus pada future practice dan bukan semata best practice. Fokus pada future practice akan menjadikan kita leader dan penentu perubahan. Sebaliknya fokus pada best practice hanya menjadikan sebagai follower semata.

Mengapa kita selalu menjadi follower dari bangsa lain? Karena kita tidak pernah berpikir tentang future practice. Karena kita tidak percaya diri dan tidak optimis untuk menemukan masa depan kita sendiri. Ingat bangsa maju berisi orang-orang yang hidup 24 jam, punya 2 mata, 2 telinga, 2 tangan, dan 2 kaki persis seperti kita. Apa bedanya dengan kita? Bedanya pada Visi, Strategi, dan Eksekusi yang adaptif terhadap perubahan. Era sekarang memerlukan agility, kecepatan, dan kreativitas. Kita butuh mindset baru dan cara baru untuk bergerak akurat dan cepat. Masa depan sulit dilihat dengan kacamata masa lalu.

Oleh karena itu Himpunan Alumni IPB dan IPB harus bersama-sama memperkuat para mahasiswa dan alumni IPB untuk memiliki 3 future skills tersebut: Visi, Strategi, dan Eksekusi, dengan penuh optimis dan percaya diri. Kita perkuat skill leadership, technopreneurship, dan sociopreneurship dalam integrasi kurikulum akademik dan kemahasiswaan. Kita akan hadirkan calon-calon pemimpin bangsa dari kampus terbaik ini. Yakni calon pemimpin yang optimis menjadikan bangsa ini selalu terdepan. Salam Satu Hati Satu IPB.

19 September 2020