Oleh: Arif Satria

Marhaban Ya Ramadhan. Bagaimana kita memaknai hikmah puasa Ramadhan secara multi dimensi? Setidaknya ada empat dimensi penting hasil menjalankan ibadah puasa Ramadhan baik pada level individual maupun sosial yaitu: (1) dimensi spiritual intelligence , (2) physical intelligence , (3) emotional intelligence , dan (4) social intelligence. 

PERTAMA, adalah dimensi spiritual intelligence , yang menekankan pentingnya hubungan ilahiah yang bersifat transendental. Landasan puasa Ramadhan adalah keimanan dan memang puasa diperintahkan hanya kepada orang-orang yang beriman sehingga bunyi QS Al Baqarah 183 adalah Yaa Ayyuhalladziina aamanu dan bukan yaa ayyuhal muslimun . Karena itu niat berpuasa pun mestinya berbasis pada keimanan. Sebagaimana Hadist Nabi yang mengatakan "Barangsiapa berpuasa karena iman dan ikhlas maka akan diampuni dosa2nya terdahulu". 

Jadi iman menjadi modal utama puasa, dan puasa juga ditujukan untuk menambah keimanan. Dengan puasa maka modal iman akan terus bertambah. Mekanisme pertambahan keimanan tersebut tercermin dari tuntutan intensitas ibadah selama bulan Ramadhan : perbanyakan sholat sunnah, tadarus al quran, i'tikaf, dan dzikir. Tidak lain pertambahan keimanan ini adalah bagian dari proses menuju status taqwa, yakni status yang dikejar oleh setiap mukmin yang berpuasa. Karena status inilah yang tertinggi di mata Allah Swt. 

KEDUA, dimensi physical intelligence , yang menekankan benefit orang berpuasa secara biologis. Secara biologis, berpuasa sangat menyehatkan karena puasa 30 hari secara tidak langsung merupakan aktivitas detox yang penting bagi tubuh kita. Ahli kesehatan dan gizi manapun menempatkan puasa sebagai aktivitas fungsional menunjang kesehatan tubuh. Namun demikian tubuh sehat bukanlah segalanya. Tubuh sehat adalah salah satu prasyarat agar jiwa juga sehat, sebagaimana pepatah di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Bagaimana puasa menumbuhkan jiwa yang sehat?

KETIGA, dimensi self control dan emotional intelligence. Hakikat puasa adalah pengendalian diri. Puasa melatih orang untuk mampu mengendalikan diri baik dalam aspek nafsu maupun emosi. Kontrol terhadap nafsu biologis makin dilatih, seperti pembatasan secara syariah tentang konsumsi makanan dan minuman. Kontrol terhadap nafsu ekonomis juga dilatih, seperti perintah perbanyakan sedekah. 

Sementara itu kontrol terhadap emosi juga dilatih, seperti menahan marah, sabar, dan mampu mengelola emosi sehingga berdampak pada perilakunya terhadap orang lain. Inilah yang dimaksud dengan kuatnya emotional intelligence, yang menurut Cardon terdiri dari kuatnya self awareness, self management, empathy, dan relationship management.

Ujung dari kuatnya emotional intelligence adalah good interpersonal skill. Dengan demikian puasa melatih untuk mengelola emosi diri yang selanjutnya dapat menciptakan hubungan sosial yang baik. Menurut Stanley, good interpersonal skill ini salah satu faktor sukses kita.

KEEMPAT, adalah dimensi social intelligence bahwa orang yang berpuasa makin meningkat kecerdasan dalam membangun kehidupan sosial. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Emotional intelligence yang didapat dari puasa dapat menjadi bekal bagi menguatnya social intelligence. Namun ada sisi lain yang perlu dikaji dalam social intelligence ini, yakni tentang kepercayaan (trust). 

Ada keyakinan orang berpuasa itu jujur. Karena memang puasa memaksa orang berkata benar dan melatih kejujuran. Secara individual, kejujuran akan berujung pada kesuksesan seseorang sebagaimana hasil penelitian Stanley yang menempatkan kejujuran sebagai faktor nomor satu dari 100 faktor penentu kesuksesan. 

Sementara itu secara sosial, kejujuran berujung kepada terciptanya kepercayaan. Karena asumsi jujurnya orang yang berpuasa, maka pada bulan puasa secara umum tingkat kepercayaan orang lain kepada orang yang sedang berpuasa akan meningkat. Dengan semakin banyak orang berpuasa mestinya semakin banyak orang dapat dipercaya. Dengan semakin banyak nya orang yang dapat dipercaya maka semakin mencirikan terciptanya high trust society yakni masyarakat dengan rasa saling percaya yang tinggi. Inilah yang oleh Francis Fukuyama menjadi modal sosial penting bagi kemajuan bangsa. 

Menurut Fukuyama bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki modal sosial tinggi, yakni high trust society seperti Jepang, Jerman dan negara maju lainnya. Dengan demikian puasa bisa memberi andil bagi terciptanya high trust society dan kemudian membuat bangsa menjadi lebih maju. Persoalannya adalah apakah suasana bulan puasa yang penuh dengan saling percaya tersebut dapat diteruskan pada 11 bulan berikutnya? Bila jawabannya ya maka tesis bahwa puasa dapat meningkatkan kemajuan bangsa akan terbukti. 

Dimensi social intelligence yang diperkuat dengan kemampuan kita membangun trust society di atas, semakin diperkaya dengan spirit solidaritas sosial dengan memberi kepada orang membutuhkan. Puasa melatih orang untuk peduli sesama. Mekanisme zakat, infak, dan sedekah (ZIS) selama bulan puasa adalah instrumen utamanya. Ditambah lagi dengan mekanisme fidyah bagi yang tidak berpuasa karena alasan tertentu semakin memperlihatkan dimensi sosial puasa. 

Dengan demikian puasa tidak saja memperkuat social intelligence dengan high trust society tetapi juga anti kesenjangan. Semangat anti kesenjangan ini akan makin efektif bila seluruh mekanisme ZIS terinstitusionalisasi dengan baik. 

Dengan hikmah puasa pada empat dimensi di atas semoga semakin membuat kita yakin bahwa perintah puasa dapat menciptakan kita sebagai khoirunnaas atau sebaik-baik manusia. Empat dimensi itu adakah modal bagi kita untuk terus memberi manfaat untuk kehidupan bersama ini.

Bogor, 22 April 2020
(Materi disampaikan pada Tausiyah Online Menjelang Ramadhan DKM Alhurriyah Kampus IPB Darmaga). Diedit dari naskah sebelumnya.