Pakar Virologi IPB University Imbau Kelompok Rentan agar Waspada Virus HMPV, Siapa Saja?

Pakar Virologi IPB University, Dr drh Sri Murtini mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan untuk mewaspadai Virus Human Metapneumovirus (HMPV). Hal tersebut ia sampaikan dalam pesan WhatsApp kepada Humas IPB.
Dr Sri menyampaikan, kelompok rentan tersebut mulai dari anak-anak di bawah lima tahun (balita), lanjut usia (lansia) di atas 65 tahun, juga orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah (misalnya, penderita HIV, kanker, atau penerima transplantasi organ), dan individu dengan penyakit paru-paru atau jantung kronis.
Dalam sejumlah artikel yang dihimpun, HMPV adalah virus pernapasan yang perlu diwaspadai, terutama karena dapat menyebabkan komplikasi serius pada kelompok rentan. Dengan menjaga kebersihan, meningkatkan daya tahan tubuh, dan meningkatkan kesadaran masyarakat, risiko penularan dan dampak buruk HMPV dapat diminimalisasi.
“Jika ada gejala yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan ke tenaga medis untuk penanganan yang tepat,” ujar Dr Sri Murtini.
Virus HMPV juga dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan bawah yang parah, seperti pneumonia dan bronkiolitis. Pada kelompok rentan, infeksi HMPV dapat memerlukan rawat inap dan bahkan menyebabkan kematian.
Virus ini memiliki ciri penularan yang mudah, HMPV menyebar melalui droplet (percikan air liur) saat batuk, bersin, atau berbicara. Virus juga dapat menular melalui kontak langsung dengan permukaan yang terkontaminasi.
Lebih lanjut, HMPV termasuk dalam keluarga Paramyxoviridae, subfamili Pneumovirinae, dan genus Metapneumovirus. Virus ini memiliki materi genetik berupa RNA untai tunggal. HMPV dapat bertahan di lingkungan luar untuk waktu yang singkat dan mudah mati oleh desinfektan, panas, atau sinar UV.
HMPV pertama kali diidentifikasi pada tahun 2001 di Belanda, tetapi diperkirakan telah menginfeksi manusia selama lebih dari 50 tahun sebelumnya. Virus ini diduga berasal dari virus avian metapneumovirus–virus yang menginfeksi unggas (burung)–yang mengalami mutasi dan adaptasi untuk menginfeksi manusia.
Gejala HMPV mirip dengan infeksi saluran pernapasan lainnya, seperti flu atau RSV. Gejalanya meliputi gejala ringan dan gejala parah. Gejala biasanya muncul 2-5 hari setelah terpapar virus dan dapat berlangsung selama 1-2 minggu.
Gejala ringan biasanya berupa pilek atau hidung tersumbat, batuk, demam, sakit tenggorokan. Sementara untuk gejala parah, terutama pada kelompok rentan di antaranya seperti sesak napas atau napas cepat, mengi (bunyi napas seperti siulan), demam tinggi, pneumonia atau bronkiolitis.
Menurut Dr Sri Murtini, tidak ada vaksin khusus untuk HMPV. Meski demikian, sejumlah langkah pencegahan berikut dapat membantu mengurangi risiko infeksi.
1. Menjaga kebersihan tangan. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik. Gunakan hand sanitizer berbasis alkohol jika tidak ada sabun dan air,
2. Menghindari kontak dengan orang sakit, jaga jarak dari orang yang batuk atau bersin, hindari berbagi peralatan makan atau minum.
3. Menggunakan masker. Masker dapat mengurangi risiko penularan melalui droplet.
4. Menjaga kebersihan lingkungan. Bersihkan permukaan yang sering disentuh (seperti gagang pintu, meja, atau mainan anak) dengan desinfektan.
5. Meningkatkan daya tahan tubuh, konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, dan hindari stres.
Edukasi dan kesadaran masyarakat tentang HMPV dinilai penting, terutama bagi anak balita dan lansia. Peran semua pihak (keluarga, tenaga kesehatan, pemerintah) dalam antisipasi pencegahan terhadap virus ini. Kenali gejala HMPV dan segera cari pertolongan medis jika gejala memburuk (misalnya, sesak napas atau demam tinggi).
Tentang Dr. drh. Sri Murtini, MSi
Dr. drh. Sri Murtini, M.Si., adalah akademisi dan peneliti di bidang mikrobiologi medis veteriner yang saat ini berkarier di Divisi Mikrobiologi Medis, Departemen Penyakit Infeksi Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University. Lulusan IPB untuk jenjang S1 hingga S3, ia telah aktif dalam penelitian terkait penyakit infeksius pada hewan, imunologi veteriner, dan pengembangan vaksin serta antibodi untuk kesehatan hewan dan manusia.
Sejumlah penelitiannya mencakup karakterisasi genetik ayam IPB-D1, transmisi penyakit parasit pada ternak, dan produksi imunoglobulin untuk pencegahan flu burung. Dr. Sri Murtini juga memiliki hak paten atas inovasi di bidang bioteknologi veteriner serta aktif dalam organisasi profesi seperti Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia dan Asosiasi Mikrobiologi Veteriner Indonesia. Dengan pengalaman luas dalam riset dan publikasi ilmiah, ia terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu kedokteran hewan dan kesehatan masyarakat veteriner di Indonesia.