Kasus Anemia Massal di Cirebon, Dosen IPB University: Dampak Anemia pada Remaja Tidak Boleh Dianggap Sepele

Kasus Anemia Massal di Cirebon, Dosen IPB University: Dampak Anemia pada Remaja Tidak Boleh Dianggap Sepele

Kasus Anemia Massal di Cirebon, Dosen IPB University Dampak Anemia pada Remaja Tidak Boleh Dianggap Sepele
Riset

Anemia masih menjadi masalah kesehatan yang perlu diwaspadai, terutama di kalangan remaja putri. Beberapa waktu lalu dilaporkan, sebanyak 30 persen atau 1.440 remaja putri di Kabupaten Cirebon mengalami anemia.

Menurut Prof Sri Anna Marliyati, dosen Departemen Gizi Masyarakat IPB University, anemia merupakan penyakit yang tidak boleh dianggap sepele. Dampaknya yang berkepanjangan, mengharuskan upaya pencegahan anemia perlu dilakukan, salah satunya melalui edukasi yang terus-menerus.

“Anemia dapat terjadi karena kekurangan zat besi, vitamin B12, atau folat. Jenis anemia yang paling umum adalah anemia akibat kekurangan zat besi, yang biasanya disebabkan oleh rendahnya asupan makanan yang kaya zat besi, terutama dari pangan hewani yang lebih mudah diserap tubuh,” jelasnya.

Ia mengatakan, jika seorang remaja wanita mengalami anemia, pada saat masuk masa dewasa, siklus menstruasinya tidak akan teratur dan mengganggu masa subur.

“Pada umumnya, banyak remaja mungkin tidak menyadari bahwa dirinya mengalami anemia. Pada saat menstruasi, dia merasa pusing, lemas dan seterusnya. Hal itu dikarenakan hemoglobin (Hb)-nya rendah,” tuturnya.

Ia menyarankan beberapa makanan yang dapat mencegah dan mengatasi anemia pada remaja. “Harus banyak mengonsumsi pangan sumber zat besi, lebih bagus pangan hewani karena lebih mudah diserap oleh tubuh seperti hati, daging sapi, dan pangan hewani lainnya,” jelasnya.

Lanjutnya, jika dirasa pangan hewani terlalu membebani secara ekonomi karena harganya yang relatif mahal, bisa digantikan dengan mengonsumsi pangan nabati sumber zat besi seperti kedelai, kacang hijau, sayuran hijau, dan lainnya.

“Namun, untuk pangan nabati perlu pendorong agar penyerapannya optimal oleh tubuh. Misalnya dibarengi dengan mengonsumsi makanan sumber vitamin C seperti jeruk, jambu biji dan buah-buahan lainnya. Suplemen tambah darah (tablet tambah darah) juga perlu dikonsumsi seminggu sekali agar Hb tetap normal jika asupan dari makanan tidak mencukupi,” paparnya.

Dosen Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University ini juga mengungkapkan, anemia pada remaja dapat berdampak negatif terhadap produktivitas belajar, menyebabkan sulit fokus, mudah lelah, dan akhirnya menurunkan kinerja akademik.

“Seorang remaja wanita yang mengalami anemia dan kemudian menjadi seorang ibu hamil dengan anemia, maka berisiko melahirkan bayi dengan kondisi lemah, bahkan dalam kasus tertentu dapat berujung pada keguguran, pendarahan selama kehamilan, persalinan prematur, gangguan janin, gangguan persalinan dan masa nifas” ujar Dr Anna.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa jika seorang ibu hamil melahirkan bayi dalam kondisi anemia, kemungkinan besar anak tersebut akan memiliki intelligence quotient (IQ) yang rendah, yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia (SDM) di masa depan.

“Saat ini, masih banyak remaja yang kurang memahami dan kurang peduli terhadap kesehatan, khususnya anemia. Oleh karena itu, edukasi yang berkelanjutan sangat diperlukan, mengingat dampak anemia bisa serius dan berkepanjangan,” tambahnya. (Lp)

Prof. Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, M.S
Prof. Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, M.Si., merupakan Guru Besar di Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Ekologi Manusia IPB University. Sebagai pakar akademisi dan peneliti di bidang pangan dan gizi, ia memiliki keahlian dalam pengembangan pangan fungsional, inovasi teknologi pangan, serta intervensi gizi untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.

Dengan berbagai penelitian dan publikasi ilmiah di tingkat nasional maupun internasional, Prof. Sri Anna aktif dalam pengembangan produk pangan berbasis lokal untuk mengatasi permasalahan gizi di Indonesia. Selain itu, ia terlibat dalam berbagai proyek kolaboratif dengan lembaga pemerintah dan industri dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.