Dosen Sekolah Vokasi IPB University Sosialisasikan Budaya 5R dari Jepang kepada Anak Panti Asuhan


Sebagai bagian dari kegiatan Abdimas, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University, Fany Apriliani, SE, MT, selaku dosen IPB University dari Program Studi Manajemen Industri - Sekolah Vokasi, sosialisasikan budaya 5R di Panti Asuhan Yatim Piatu Naelul Khair, Bekasi beberapa waktu lalu. Sasaran kegiatan ini adalah anak-anak di Yayasan Panti Asuhan Yatim Piatu Naelul Khair yang didampingi pula oleh para pengurus yayasan.  

Pelatihan dengan tema implementasi budaya 5R ini sebagai upaya peningkatan perawatan fasilitas dan melatih kedisiplinan personal.  Menurut Fany, permasalahan yang sering muncul di yayasan adalah anak-anak panti kesulitan menemukan suatu barang yang dibutuhkan, padahal cukup sering dipakai. Barang diletakkan sembarang, tidak pada tempatnya atau lupa dimana meletakkan barang-barang yang digunakan sebelumnya. Kondisi kamar tidur, dapur, tempat cuci, serta toilet yang kurang bersih dan tertata rapi. Tanggung jawab dan kedisiplinan setiap anak untuk menjaga kerapihan dan kebersihan masih perlu terus ditingkatkan serta permasalahan housekeeping lainnya.

“Sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan yang sering terjadi, maka harus ditingkatkan pemahaman tentang manfaat 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin) bagi kehidupan mereka sehari-hari dan pengaplikasiannya di Panti Asuhan tempat mereka tinggal,” ujarnya.

Budaya 5R merupakan adaptasi dari budaya 5S yang diimplementasikan di Jepang.  Dalam buku The 5S’s: Five Keys to a Total Quality Environment yang ditulis oleh Takashi Oshada, menjelaskan secara sistematik praktik housekeeping yang baik. Program 5S pertama kali diperkenalkan di Jepang sebagai suatu gerakan kebulatan tekad untuk melakukan: Seiri (Ringkas), Seiton (Rapi), Seiso (Resik), Seiketsu (Rawat), dan Shitsuke (Rajin).

Pertama, budaya ringkas (seiri) adalah manajemen pemilahan. Peserta diajarkan untuk bisa membedakan dan memilah antara barang yang diperlukan dan yang tidak diperlukan. Prinsipnya yaitu singkirkan dan buang barang yang tidak diperlukan. Jadi, simpan dan amankan barang yang masih bermanfaat.

Keberhasilan penerapan sikap ringkas sangat didukung dengan implementasi konsep Red Tag Strategy, yaitu menandai barang-barang yang sudah tidak berguna dengan memasang label merah (red tag), agar mudah dibedakan dengan barang-barang yang masih berguna. Barang-barang dengan label merah, kemudian disingkirkan dari area kita. Semakin ramping (lean) area kita dari barang-barang yang tidak dibutuhkan, maka akan semakin efisien tempat/area tersebut.

Kedua, budaya rapi (seiton) menitikberatkan pada manajemen penataan. Peserta diajarkan untuk bisa menempatkan dan menata barang-barang hasil pemilahan tadi, agar rapi, mudah dicari, aman dan jangan lupa beri tanda, misalnya dengan label penamaan. Dengan demikian setiap barang punya tempat dan kita dapat menemukan dengan cepat barang yang diperlukan.

“Menempatkan barang-barang hasil pemilahan dengan rapi dan teratur, pemberian keterangan (indikasi) tempat, nama barang, hingga berapa banyak jumlahnya, hal ini bertujuan agar suatu barang dapat diperoleh dengan mudah dan cepat oleh penggunanya. Praktik ini erat kaitannya dengan konsep Signboard Strategy, yang dipercaya mampu mengurangi bentuk pemborosan waktu dan pergerakan manusia ketika mencari barang,” imbuhnya.

Ketiga, budaya resik (seiso) secara literal artinya “bersih”. Implementasinya berupa menghilangkan sampah/kotoran/benda asing menggunakan peralatan kebersihan, sehingga hasilnya diperoleh tempat, ruang, maupun barang yang lebih bersih berkilau. Peserta diajarkan bahwa aktivitas pembersihan sekaligus sebagai kegiatan pengecekan (inspeksi). Lingkungan yang sehat dan nyaman dapat meningkatkan motivasi hidup. Sebaliknya jika mendapati lingkungan yang kotor dan berantakan, memungkinkan munculnya demotivasi.

Keempat, budaya rawat (seiketsu) lebih tepatnya sebagai aplikasi pemeliharaan 3R (ringkas, rapi dan resik). Peserta diajarkan bahwa kebiasaan ringkas, rapi dan resik harus dikerjakan berulang-ulang dan selanjutnya perlu dibuat standarisasi. Standar yang dibuat harus mudah dipahami dan diimplementasikan oleh seluruh pihak, misalnya dengan memanfaatkan visual display sebagai media untuk menyampaikan informasi melalui indera penglihatan, contohnya display: jagalah kebersihan, buang sampah pada tempat yang disediakan, rapikan setelah digunakan, masuk ruangan wajib melepas alas kaki, dan lain sebagainya.  Standarisasi perlu diperiksa secara teratur dan berkala dengan tujuan perbaikan konsisi secara berkesinambungan.

Kelima, budaya rajin (shitsuke) adalah puncak dari implementasi budaya 5R, yaitu pembiasaan disiplin. Kedisiplinan berarti penyadaran diri terhadap etika pribadi dan termotivasi untuk selalu melakukan perbaikan (continuous improvement). Para peserta diberikan motivasi jika taat menjalankan bidaya 5R maka secara perlahan bad habit akan berubah menjadi good habit.  

Setelah pemaparan materi selesai, seluruh peserta pelatihan diminta secara langsung mempraktikkan kegiatan 3R terlebih dahulu yaitu kegiatan Ringkas, Rapi dan Resik. Para peserta dibagi dalam kelompok kecil dengan penugasan di beberapa area yang berbeda.

“Sebagai tindak lanjut pelatihan ini, perlu dibuatkan standarisasi yang dapat mengarahkan anak-anak untuk terus memelihara semua fasilitas di panti asuhan. Pemantauan dan evaluasi hasil pelatihan oleh pengurus yayasan selama satu pekan, ternyata masih didapati anak-anak yang belum disiplin memelihara fasilitas di panti asuhan. Oleh sebab itu, berikutnya perlu ditegakkan peraturan, pembagian jadwal kegiatan 5R untuk semua personil di panti asuhan, dan kerjasama semua pihak. Dalam jangka panjang, memungkinkan pula untuk dilakukan perlombaan budaya 5R agar terwujud kesinambungan dan peningkatan budaya 5R,” imbuhnya. (**/Zul)
 



Published Date : 09-Sep-2020

Resource Person : Panti Asuhan Yatim Piatu Naelul Khair

Keyword : Abdimas, IPB University, Sekolah Vokasi, dosen IPB

SDG : SDG 4 - QUALITY EDUCATION