Diskusi Sekolah Vokasi: Terjadi Perubahan Konsumsi Akibat Pandemi


Pandemi COVID-19 membuat rantai suplai makanan menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Kebutuhan akan pangan masih tetap berjalan meskipun banyak rutinitas telah berubah akibat penyebaran virus corona. Sekolah Vokasi (SV) IPB University mengadakan webinar series ke-13 dengan tema "Agri Food Supply Chain: A Food System Perspective in Pandemic Era” pada akhir bulan lalu.

Dalam sambutannya, Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan Sekolah Vokasi, Dr  Wawan Oktariza menyampaikan bahwa terjadi perubahan aktivitas konsumsi akibat pandemi yang mengakibatkan restoran dan usaha makanan lain yang merugi. Oleh karena itu, ketersedian dan aksesibilitas pangan harus dijaga selama pandemi berlangsung.

Ia berharap agar webinar internasional ini bermanfaat bagi semua peserta dan dapat menambah sudut pandang baru tentang rantai suplai makanan di tengah keadaan yang tidak menentu ini.
Dalam kesempatan ini, dosen IPB University dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Masyarakat (Fema), Dr Drajat Martianto menjelaskan bahwa pandemi COVID-19 mempengaruhi banyak sektor. Seperti sektor produksi makanan, transportasi dan logistik. Aktivitas ekonomi juga terdampak pada penurunan stok dan persediaan makanan, penurunan akses dan keuntungan agribisnis, peningkatan angka kelaparan, dan lain-lain.

Strategi yang dapat dilakukan untuk mempertahankan rantai suplai makanan di tengah pandemi ini ialah menerapkan Sistem Pangan Berkelanjutan (Sustainable Food System/SFS), mengoptimalkan potensi makanan lokal dan keanekaragaman hayati, memperkuat kedaulatan makanan dan mencukupi diri, memendekkan rantai pasokan untuk meningkatkan lingkungan, pendapatan petani dan harga wajar bagi konsumen, mengurangi makanan yang terbuang dan limbah, pertanian perkotaan dan sub perkotaan, dan good agriculture practices (GAP) yang lebih baik untuk meningkatkan keamanan makanan segar.

“Kita memerlukan local wisdom, biodiversitas dan land and water resources yang akan mengarahkan pada proses sistem produksi, penyimpanan dan distribusi, proses dan pengemasan, dan pemasaran dan retail. Lalu kemudian pada rantai suplai yang berkelanjutan,” jelasnya.

Sementara itu, Dr Risti Permani dari Deakin University Australia memaparkan tentang peran inovasi dan teknologi dalam pertanian yang berkelanjutan. Ia memperkenalkan model linear sederhana dari inovasi yaitu berawal dari riset dan kreativitas, penemuan, desain dan pengembangan, dan inovasi. Namun pada praktiknya, hubungan antara kreativitas dan wealth creation tidak selalu berada pada garis lurus yang sama. Tantangan yang dihadapi tidaklah sesederhana yang terlihat. Misalnya, pada saat munculnya e-commerce, blockchain, dan pembangunan start-up.

“Tantangan bisa datang dari keberagaman, validasi produk, keterbatasan sumber daya, perubahan yang terjadi terus menerus, dan kemungkinan mengembangkan kebudayan atau kebiasaan baru,” tutupnya. (Gre/Zul)



Published Date : 09-Sep-2020

Resource Person : Dr Wawan Oktariza

Keyword : Sekolah Vokasi, Rantai Pasokan, IPB University, dosen IPB

SDG : SDG 12 - RESPONSIBLE CONSUMTION AND PRODUCTION