Tanggulangi Penyakit Comorbid pada COVID-19 dengan Menggunakan Jamu Tradisional


Pusat Studi Biofarmaka Tropika (Trop BRC), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University kembali menggelar webinar seri. Kali ini bertajuk “Jamu untuk Penanganan Penyakit Comorbid  pada COVID-19”, (4/8).
Akhmad Saikhu, SKM, MSc, PH, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat Tradisional Kementerian Kesehatan RI hadir dan menjelaskan penggunaan jamu pada comorbid COVID-19 beserta peluang risetnya.

Ia mengatakan bahwa per Maret 2020, data menunjukkan bahwa pasien COVID-19 dengan comorbid tertinggi adalah hipertensi. Upaya penanggulangan komorbiditas harus dilakukan untuk mencegah gejala COVID-19 yang semakin berat.
Upaya tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan jamu sebagai pengobatan pendamping. Hal ini terkait dengan fungsi jamu sebagai agen promotif untuk meningkatkan imunitas, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Selain itu, dalam pengembangannya, harus merujuk pada formulasi yang holistik untuk meningkatkan kualitas sediaan khususnya terkait kesesuaian bahan agar keamanan konsumsinya terjaga.  Serta harus memenuhi parameter safety, efficiency dan patient reported outcome agar dapat diakaji apakah dapat memperbaiki gejala klinik dan memperbaiki pemeriksaan laboratoris.

“Pada saat penggunaan, atau pada saat penyusunan formula, dua hal ini sudah diujicobakan misalkan dengan uji preklinik, kemudian dengan uji klinik dan sebagainya,” jelasnya.

Pada tiap proses penyiapan bahan bakunya pun harus menggunakan prinsip good agricultural product (GAP), good manufacturing product (GMP), serta lulus quality control.

Pemerintah China juga menerbitkan dokumen mengenai diagnosis dan treatment protocol for novel coronavirus pneumonia yang dalam bahasannya menyatakan pengobatan menggunakan traditional chinese medicine juga disarankan. Misalnya dengan kapsul huoziang Zhengqi. Hasil observasi medis menunjukkan bahwa obat tersebut dapat berfungsi pada pembersihan paru-paru dan detoksifikasi. Hal tersebut bisa menjadi gambaran bagi peneliti di Indonesia untuk turut menerapkan obat tersebut namun dengan menggunakan tanaman obat tradisional Indonesia.

Prof Dr Dyah Iswantini Pradono, Ketua Departemen Kimia IPB University juga turut menyampaikan bahasan mengenai obat herbal untuk penyakit degeneratif yang mendukung pengobatan COVID-19 khususnya untuk penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, gagal ginjal, dan paru kronik.

Berdasarkan data BPOM 2020, tanaman herbal seperti jahe, kunyit dan temulawak dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan mengobati penyakit degeneratif.  
Prof Dyah beserta timnya mengembangkan obat herbal sebagai anti-gout untuk menurunkan kadar asam urat dalam darah serta anti inflamasi. Penelitian tersebut dikembangkan dari tahap bioprospeksi hingga uji pre klinis. Uji in vitro menggunakan enzim xanthin oksidase serta in vivo menggunakan ekstrak formulasi pada mencit. Di samping itu, pengembangan obat herbal sebagai anti hipertensi dan anti obesitas juga dilakukan. Targetnya, dalam tiga tahun mendatang produk tersebut sudah siap dikomersialkan.

“Penelitian berbasis tanaman obat sangat perlu sekali kita kembangkan. Jadi kita harus melihat senyawa pencirinya untuk ektrak kunci,” ungkapnya. (MW/Zul)
 



Published Date : 04-Aug-2020

Resource Person : Prof Dr Dyah Iswantini Pradono, MScAgr.

Keyword : jamu, herbal, pengobatan tradisional, comorbid, COVID-19, Pusat Studi Biofarmaka Tropika IPB University