Laut Selatan Indonesia Adalah Rumahnya Tuna Sirip Biru


Laut Selatan yang melewati Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan bahkan sampai Nusa Tenggara Timur (NTT) atau di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP)-573 merupakan tempat memijah (spawning ground) ikan Tuna Sirip Biru Selatan (Southern Bluefin Tuna/SBT).  Ikan SBT termasuk ikan mahal untuk sashimi, yang hanya ada dua jenis di dunia yaitu Notherm Blue Fin dan Southern Blue Fin. 

Untuk itu, kuota penangkapan SBT dari organisasi perikanan regional CCSBT bagi Indonesia yang mencapai 1.000 ton/tahun perlu dioptimalkan dengan cara-cara yang berkelanjutan. Hal ini disampaikan Agus Suherman dalam Webinar Forum Komunikasi Kemitraan Perikanan Tangkap (FK2PT), 4/8.

“Walaupun masih di bawah Australia dan Jepang yang mencapai 6.000 ton per tahun, upaya-upaya konservasi dan pengelolaan serta tentunya diplomasi yang baik dan strategi yang tepat dimungkinkan untuk naiknya kuota tangkapan SBT Indonesia di masa mendatang. Mengingat laut rumah SBT adalah Indonesia,” kata Ketua FK2PT ini.

Menurutnya, usaha budidaya atau pembesaran SBT juga belum berkembang di Indonesia. Untuk itu perlu dukungan riset dan inovasi untuk mempercepat proses transformasi teknologi ke depan. Hal ini sejalan dengan keinginan Presiden Jokowi untuk memajukan sektor budidaya perikanan.

“Di sisi lain keunggulan perikanan tangkap di NTB dan NTT justru perikanan tradisionalnya. Ini sebetulnya bisa dikembangkan dalam bingkai ekonomi kerakyatan. Oleh karenanya tentu, infraktruktur adalah perhatian utama. Khususnya armada, pelabuhan dan transportasi. Optimalisasi pemanfaatan perikanan tangkap NTT dengan asumsi mampu mencapai 300 ribu ton per tahun maka ekonomi yang berputar dari perikanan tangkap saja bisa mencapai Rp 6 Triliun per tahun,” imbuhnya.

Sementara itu, Dr Wini Trilaksani, dosen IPB University sekaligus Ketua Program Studi Pascasarjana Teknologi Pengolahan Hasil Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) menyampaikan bahwa produksi ikan di NTT sangat potensial untuk pemenuhan konsumsi penduduk dalam rangka menekan beban masalah gizi yaitu stunting di Indonesia dan secara khusus di wilayah Nusa Tenggara.  Permintaan ikan secara nasional dan internasional dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan peningkatan tingkat konsumsi penduduk.

Namun dengan adanya pandemi COVID-19, terjadi penurunan permintaan karena lockdown di berbagai negara dan penutupan wilayah.  Sementara itu produksi masih tetap tinggi sehingga ada produksi ikan di beberapa pelabuhan yang terbuang. Menurutnya, diperlukan inovasi pemberian nilai tambah, baik untuk pangan konvensional, pangan fungsional, maupun nutraceutical, untuk menyediakan pangan yang sehat, aman dan mendukung ketahanan pangan nasional.

“Perkembangan bahan pangan ke depan tidak saja produk yang siap untuk dimasak, diperlukan juga kecekatan penyajian, produk yang awet, bergizi, dan aman. Pengembangan produk bernilai tambah harus disesuaikan dengan keinginan konsumen atau permintaan pasar. Berbagai jenis diversifikasi olahan produk perikanan perlu disesuaikan dengan kebutuhan kelompok umur untuk pemenuhan gizinya. Para pelaku usaha pengolahan ikan UMKM perlu melakukan inovasi terhadap produk-produk olahan. Tidak saja belajar dari produk yang ada di pasar dalam negeri melainkan juga yang ada di luar negeri. Ikan mampu memberikan nilai ekonomi dari keseluruhan bagian tubuhnya (daging, kepala, hati, jeroan, kulit, tulang, mata, gelembung renang). Pasar sudah tersedia, tinggal yang diperlukan adalah standarisasi dan komersialisasi,” ujar Wini.

Sejalan dengan itu, Dr Yahyah dari Universitas Nusa Cendana mengatakan NTT dikenal sebagai daerah dengan keunggulan perikanan skala kecil. Biasanya didominasi perikanan pole and line dengan ikan cakalang sebagai komoditi utama, disamping jenis ikan demersal kerapu dan kakap.  

“Potensi pengembangan perikanan skala kecil NTT cukup besar, nilai tambah produk menjadi satu fokus penting untuk meningkatkan nilai ekonominya,” ungkapnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTT Ganef Wurgiyanto menyampaikan target produksi perikanan tangkap 288.758 ton pada tahun 2023 sebagai arah untuk NTT bangkit menuju sejahtera.  Ia mengatakan NTT masih memiliki peluang besar untuk pengembangan yaitu sekitar 60 persen dari JTB 393.360 ton per tahun. Dengan komoditi utama tuna, tongkol, cakalang (TCT), ikan demersal kerapu, kakap, kurisi dan ikan pelagis kecil tembang dan layang. 

Sementara itu, Wahid W Nurdin pengusaha perikanan pole and line menyampaikan adanya kendala perijinan, konflik dengan nelayan purse seine, dan kesulitan mendapatkan umpan hidup.  “Perikanan pole and line adalah perikanan yang paling ramah lingkungan, tujuannya menangkap ikan ekonomis penting seperti tuna, cakalang dan tongkol dengan pancing, hasil tangkapan berkualitas baik sehingga layak untuk dikembangkan melalui kemudahan perijinan”, ujarnya. (**/Flv/Zul)

 



Published Date : 05-Aug-2020

Resource Person : Dr Wini Trilaksani

Keyword : SBT, Perikanan Tuna Sirip Biru, FPIK IPB University, dosen IPB