Wisatawan di Era New Normal Lebih Kedepankan Keamanan dan Kesehatan


Dalam rangka memasuki era tatanan normal baru, Sekolah Vokasi (SV) IPB University mengadakan webinar series ke-5 dengan tajuk "Kebangkitan Agro-ecotourism di Era Tatanan Normal Baru: Perspektif Sosial Ekonomi, Bisnis dan Ekologis" (26/6). Pada webinar tersebut, Dekan SV IPB University, Dr Arief Daryanto menekankan pada esensi ecotourism di era tatanan normal baru. Ia berharap, melalui webinar ini para peserta mendapat insight baru sehingga mampu bersama-sama mengkompromikan aspek sosial ekonomi, bisnis dan ekologis demi terciptanya ekowisata berkelanjutan (sustainable ecotourism). 

Dalam webinar ini, Dr Frans Teguh, Staf Ahli Bidang Pembangunan Keberlanjutan dan Konservasi yang juga Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Sumber Daya dan Kelembagaan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menjelaskan bahwa tren pariwisata akan mengalami perubahan. Pandemi COVID-19 menimbulkan disrupsi sehingga menyebabkan wisatawan lebih mengedepankan aspek keamanan dan kesehatan. Maka dari itu pemerintah, pelaku usaha dan stakeholder terkait harus mampu beradaptasi atau menciptakan inovasi sebagai respon terhadap perubahan. 

“Mega Trends Normal Baru yang akan mewarnai pariwisata meliputi staycation, hommy, interactive relationship and activities, destinasi jarak pendek atau dekat, perjalanan domestik, pilihan safe, kebersihan, kesehatan dan destinasi yang aman, health, sensitivitas terhadap kebersihan, protokol baru, keberlanjutan dan tanggung jawab wisatawan, reliance dan pengalaman pengetahuan setempat, kearifan dan literasi masa lalu, pengembangan penciptaan nilai otentik produk, ekosistem digital, peniadaan pengiriman layanan pribadi dan jarak, niche market, voluntourism, edukasi, kedermawanan, penikmat alam terbuka atau semesta, dan healing ecotourism. Virtual is the new reality. Value is the base of new global. Reliance is indeed the sustainability," tuturnya. 

Sementara itu, Prof Dr Anas Moftas Fauzi,  Dekan Sekolah Pascasarjana IPB University membahas agro-edu-ecotourism yang berkelanjutan. Ia menekankan perlunya edukasi dalam ekowisata untuk meminimalkan dampak pada lingkungan. Contohnya adalah penggunaan warna alam untuk kerajinan batik di Kampung Alam Mulon Gunungpati tanpa merusak alam itu sendiri serta perilaku para wisatawan yang seharusnya memiliki tanggung jawab terhadap kebersihan tempat wisata yang dikunjunginya.

Sementara Dr Rinekso Soekmadi, Dekan Fakultas Kehutanan IPB University lebih menyoroti adaptive ecotourism sebagai wujud transformasi ekowisata di era tatanan normal baru. Ia menegaskan bahwa ekowisata di era tatanan baru ini bukan wisata biasa. Karena dalam adaptive ecotourism akan muncul perubahan-perubahan seperti online base untuk promosi, pemasaran dan ticketing, implikasi kunjungan terencana termasuk edukasi dan interpretasi yang diperlukan, wisata sambil bekerja dan belajar, pematuhan protokol kesehatan, panduan dari interpretator di tempat wisata, pembatasan jumlah wisatawan dan partisipasi dari masyarakat dan pemerintah setempat. 
“Sehingga dengan adaptasi demikian, ekowisata tetap eksis dan berkelanjutan meski dalam era tatanan baru,” ujarnya. (Gre/Zul)

 



Published Date : 29-Jun-2020

Resource Person : Dr Arief Daryanto

Keyword : New Normal, Ekowisata, wisata di era new normal