Peran Keluarga Menjadi Kunci Utama di Era Pandemi COVID-19 dan New Normal


Keluarga merupakan institusi sosial terkecil di masyarakat yang mempunyai peran sangat besar dalam pembentukan sumberdaya manusia berkualitas.  Keluarga adalah institusi pertama dan utama dalam mendidik, melindungi serta memelihara anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan sesuai dengan nilai-nilai keluarga, norma masyarakat dan agama yang dianut sehingga dihasilkan generasi tangguh. 

Generasi tangguh inilah yang akan menjadi calon pemimpin bangsa dan pemegang roda pembangunan di masa akan datang. Maka tidak salah kalau muncul kalimat yang indah “institusi keluarga merupakan pilar dan pondasi bangsa”, tapi kalimat itu juga sekaligus bisa mengkhawatirkan kita semua apabila pilar dan pondasi keluarga tidak kuat. Apa yang akan terjadi dengan negara kita? Tentunya jika keluarga tidak memiliki pilar dan pondasi yang kuat maka negara tidak akan mempunyai landasan yang kuat alias keropos.  

Menurut Ketua Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia (Fema), IPB University, Dr Tin Herawati, pandemi COVID-19 telah mempengaruhi sistem lingkungan terbesar (makrosistem) yang tentunya sangat berdampak pada lingkungan terkecil (mikrosistem), yaitu keluarga.  Perubahan demi perubahan dihadapi oleh keluarga pada sektor pendidikan, ekonomi, kesehatan dan sebagainya sehingga memengaruhi kehidupan seluruh anggota keluarga. 

Pengaruh sistem lingkungan terhadap keluarga bisa mengandung faktor risiko dan faktor protektif. Faktor risiko adalah faktor yang dapat mengancam kesejahteraan keluarga sedangkan faktor protektif merupakan faktor yang mendukung keluarga untuk menjadi kuat dan bijaksana.  

Pada masa pandemi COVID-19, keluarga menjadi isu yang banyak diperbincangkan, terutama jumlah penderita COVID-19 sampai jumlah korban meninggal yang selalu diinformasikan di berbagai media.  Adanya penderita dan korban meninggal dari anggota keluarga akibat COVID-19 merupakan salah satu contoh kasus dari faktor risiko bagi keluarga.  

“Jumlah penderita dan korban yang semakin banyak memicu kekhawatiran semua pihak terhadap dahsyatnya penularan COVID-19.  Hal inilah yang memicu pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang intinya untuk melindungi anggota keluarga dari penularan COVID-19 seperti penutupan sekolah, physical distancing, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Work from Home (WFH). Adanya kebijakan-kebijakan tersebut, isu keluarga muncul lagi, terutama isu tidak stabilnya pekerjaan yang dimiliki keluarga. Pekerjaan yang tidak stabil inilah yang memicu munculnya berbagai permasalahan lainnya dalam keluarga,” ujarnya.

Isu keluarga menjadi perbincangan kembali sehingga banyak pihak yang tertarik melakukan penelitian-penelitian terkait kehidupan keluarga di masa pandemi COVID-19. Ada kekonsistenan dari hasil-hasil penelitian tersebut bahwa ketahanan ekonomi keluarga menjadi faktor yang paling terdampak oleh pandemi COVID-19. Menurunnya ketahanan ekonomi keluarga inilah yang akan berdampak pada ketahanan sosial dan psikologis keluarga. 

Selain memberikan faktor risiko pada keluarga, pandemi COVID-19 juga memiliki faktor protektif yang ditunjukkan oleh kebersamaan dan komunikasi keluarga yang semakin baik serta saling mendukung antar anggota keluarga.  Nilai-nilai inilah yang harus terus ditingkatkan sehingga keluarga dan individu di dalamnya dapat mengembangkan mekanisme adaptasi dan pemecahan masalah yang bertujuan untuk melindungi keluarga dari situasi krisis dan tekanan.

Mengingat dampak pandemi COVID-19 begitu luas ke berbagai sektor maka pemerintah dan semua pihak terus bekerja keras untuk menekan dampak tersebut. Keberhasilan pemerintah dalam menekan dampak pandemi COVID-19, tidak hanya memberlakukan kebijakan-kebijakan tetapi intinya bagaimana kebijakan tersebut bisa dijalankan dengan baik oleh semua pihak. 

“Kembali lagi, keluarga menjadi sentral utama dalam pelaksanaan kebijakan-kebijakan tersebut. Kepatuhan anggota keluarga dalam melaksanakan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sangat berperan besar dalam menekan dampak pandemi COVID-19. Keluarga berperan penting melindungi, mensosialisasikan dan mengajarkan anggota keluarganya untuk selalu cuci tangan, memakai masker jika keluar rumah, tidak berkerumun dan tidak banyak ke luar rumah. Oleh karena itu penguatan fungsi keluarga sebagai  fungsi perlindungan, fungsi sosial dan pendidikan harus terus ditingkatkan dalam upaya menekan dampak pandemi COVID-19,” terangnya.

Seiring berjalannya waktu, di sejumlah negara termasuk Indonesia, mulai melonggarkan kebijakan terkait mobilitas. Misalnya relaksasi PSBB, dimulainya work from office (WFO) dan dibukanya pusat perbelanjaan dan tempat wisata.  Di sisi lain, COVID-19 masih terus mengancam dan korban jiwa pun terus bertambah. Kondisi itulah yang menuntut kita semua untuk menerapkan pola hidup baru. Yaitu perubahan perilaku untuk menjalankan aktivitas normal yang disertai dengan menerapkan protokol kesehatan yang dianjurkan untuk mencegah penularan COVID-19. 

Inilah yang disebut memasuki kehidupan di era new normal atau normal baru. Perubahan perilaku inilah yang menjadi kunci sukses dalam menghadapi pandemi COVID-19 dan kekonsistenan dalam menerapkan perilaku baru menjadi kunci sukses dalam memasuki normal baru. Oleh karena itu dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan tersebut tentunya pemerintah sangat menghimbau untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan COVID-19. 

“Kembali lagi keluarga menjadi sentral utama dalam keberhasilan menuju era normal baru.  Pada saat ada relaksasi PSBB, anggota keluarga ramai keluar rumah untuk pergi ke pasar, pusat-pusat perbelanjaan, berkunjung ke tempat-tempat rekreasi sehingga sudah kelihatan macet kembali di perjalanan. Seolah-olah tidak terjadi pandemi COVID-19, yang akhirnya pemandangan yang terlihat bukan new normal tetapi back to normal artinya kembali ke normal seperti kondisi sebelumnya.  Kondisi inilah yang menjadi pemicu pertambahan kasus baru COVID-19 di era new normal,” imbuhnya.

Meskipun pemerintah mengeluarkan kebijakan baru, bukan berarti kita sudah bebas dari ancaman penularan COVID-19, sehingga semua pihak bebas ke luar rumah tanpa menggunakan protokol kesehatan yang dianjurkan. Pada kondisi inilah peran keluarga sangat penting untuk selalu mengingatkan anggota-anggota keluarganya supaya patuh dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. 

Keluarga merupakan satu-satunya lembaga sosial yang diberi tanggung jawab pertama kali untuk mengenalkan tingkah laku yang dikehendaki, mengajarkan penyesuaian diri dengan lingkungan sosialnya dan penyesuaian diri dengan perubahan lingkungan yang terjadi. Keluarga merupakan salah satu agen sosialisasi yang paling penting dalam mengajarkan anggota-anggotanya mengenai aturan-aturan yang diharapkan oleh masyarakat. Kemampuan keluarga mengendalikan individu secara terus menerus, merupakan kekuatan sosial yang tidak dapat ditemukan pada lembaga lainnya. Oleh karena itu kepatuhan-kepatuhan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan COVID-19 sangat dipengaruhi oleh kekuatan sosial dalam keluarga. 

Keluarga memang unit terkecil dalam masyarakat, tetapi keluarga memiliki peran besar dalam keberhasilan menekan dampak pandemi COVID-19 dan kesuksesan menuju era normal baru. Oleh karena itu dalam rangka Hari Keluarga Nasional, kita semua diingatkan kembali peran pentingnya sebuah keluarga. Tidak hanya berperan penting dalam mewujudkan SDM berkualitas tetapi juga menjadi kunci utama dalam menekan wabah pandemi COVID-19 dan kunci utama dalam kesuksesan memasuki era normal baru.

“Di masa pandemi dan memasuki era normal baru, keluarga harus memperkuat fungsinya supaya mampu  menjadi  pilar dan pondasi yang kuat untuk negara Indonesia tercinta,” tandasnya. (**/Zul)

 



Published Date : 29-Jun-2020

Resource Person : Dr Tin Herawati

Keyword : Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University, COVID-19