IPB University Bahas Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan Pasca Pandemi COVID-19


Sektor pariwisata menjadi sektor yang paling terdampak dengan adanya pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia. Banyak tempat wisata dan tempat hiburan yang harus ditutup. Ditutupnya tempat wisata diharapkan mampu memutus rantai penularan COVID-19.
Sejalan dengan kejadian tersebut, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), IPB University menggelar diskusi online “Ngabuburit Bareng Dosen Muda BioIPB #1” pada 8/5. Diskusi kali ini membahas tentang “Membangun Pariwisata Berkelanjutan Pasca Pandemi COVID-19”.

“Saat adanya pandemi COVID-19 ini, harus ada panduan tersendiri yang sesuai dengan kondisi,” tutur Himas Fuady Putra, SSi, MSi selaku dosen IPB University dari Departemen Biologi, FMIPA, IPB University.  Sebagai dosen muda sekaligus Assesor of Indonesian Sustainable Tourism Award 2019, Himas menyatakan bahwa pariwisata berkelanjutan dapat dicapai apabila memenuhi kriteria Sustainable Development Goals (SDGs). Minimal memenuhi tiga dari 17 poin yang tercantum dalam SDGs, yaitu economic growth, sustainable consumption, dan production and sustainable use of oceans and marine resource.

Beberapa negara di dunia sudah meratifikasi standar dari sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan. Contohnya di Thailand, pemerintahnya sudah tidak berkonsentrasi pada peningkatan jumlah turis yang berkunjung ke Thailand. Fokusnya sudah beralih pada pelestarian sumberdaya alam agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
“Konsep pariwisata berkelanjutan dalam bidang ekonomi sudah tidak berfokus pada jumlah wisatawan. Tetapi, fokusnya berubah pada seberapa banyak uang turis yang dihabiskan selama berwisata di tempat tersebut,” ungkap Hamis.

Ada beberapa kriteria penting dalam manajemen yang menunjang keberhasilan pariwisata berkelanjutan. Kriteria yang paling penting adalah strategi jangka panjang yang mencakup ekonomi, sosial dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Kriteria yang paling sulit dilakukan di Indonesia adalah properti pariwisata. Hal ini dikarenakan kurang adanya keterlibatan masyarakat setempat dalam penyediaan properti yang melengkapi kebutuhan wisata.

Budaya dan sosial juga merupakan hal penting yang perlu diberdayakan dan dilindungi. Pariwisata berkelanjutan juga mendorong masyarakat lokal untuk memiliki prospek pekerjaan yang lebih baik. Masyarakat lokal harus diakomodasi saran dan kritik untuk wisata. Hal tersebut dikarenakan masyarakat lokal adalah orang yang paling mengerti dengan kondisi setempat.

“Perlu adanya workshop atau pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat lokal. Sehingga, ekonominya bisa diberdayakan,” tambahnya.
Pelestarian lingkungan tetap harus dijaga. Setiap destinasi wisata harus memiliki manajemen resiko lingkungan. Identifikasi bagian-bagian dari destinasi yang sensitif terhadap turis. Selain itu, banyak sektor lingkungan yang harus bisa dijamin kualitasnya seperti ketersediaan air bersih, pengelolaan sampah yang baik, transportasi yang ramah lingkungan, dan lain sebagainya.

“Banyak cara yang bisa membangkit pariwisata Indonesia pasca pandemi ini, seperti adanya diskon-diskon yang ditawarkan dan banyak lainnya,” tutupnya (AD/Zul).

 



Published Date : 11-May-2020

Resource Person : Hamis

Keyword : Wisata Berkelanjutan, IPB University, lingkungan, masyarakat, pandemic COVID-19, pariwisata

SDG : SDG 8 - DECENT WORK AND ECONOMIC GROWTH