Dosen IPB University: Optimalisasi Wakaf Produktif untuk Mencapai Tujuan SDGs


Dalam ajaran Islam, terdapat instrumen filantropi yang bisa berkontribusi dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), salah satunya wakaf. Mungkin mayoritas masyarakat Indonesia masih menganggap bahwa penggunaan aset wakaf hanya bisa untuk kepentingan peribadatan semata, seperti tanah wakaf untuk masjid maupun tanah wakaf untuk pemakaman. Padahal, aset wakaf dapat dikelola secara produktif sehingga masyarakat dapat menerima manfaat secara nyata dari adanya aset wakaf.

Menurut Dr M Iqbal Irfany, dosen IPB University dari Departemen Ilmu Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM)  yang juga bagian dari tim di  Unit Pengelolaan Dana Lestari dan Wakaf IPB University), wakaf produktif merupakan salah satu cara pengelolaan aset wakaf agar dapat menghasilkan manfaat secara berkelanjutan. Harta benda wakaf, baik harta benda tidak bergerak (seperti tanah, bangunan, tanaman, dan lain-lain) dan harta benda bergerak (seperti uang, logam mulia, surat berharga, dan lain-lain) dapat dikelola manfaatnya dalam jangka waktu (mu’aqqat) tertentu ataupun selamanya (muabbad).

Terlihat bahwa dibandingkan instrumen sosial Islam yang lain seperti zakat, pengelolaan harta benda wakaf yang dapat diproduktifkan tergolong lebih variatif dan fleksibel, di antaranya adalah wakaf uang, wakaf air, wakaf hutan, wakaf pendidikan, dan wakaf kesehatan.

“Wakaf Uang adalah wakaf yang dilakukan oleh seseorang, kelompok maupun lembaga ataupun badan hukum dalam bentuk uang tunai atau surat berharga. Wakaf Uang pun terbilang sederhana, biasanya dana wakaf uang merujuk pada cash deposit di lembaga-lembaga keuangan seperti bank dan diinvestasikan pada profitable business activities. Karena itu di Indonesia wakaf uang dibayarkan melalui Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKSPWU). Hasil dari wakaf uang membantu mauquf alaihi mendapatkan modal dalam memulai usaha mereka sendiri sehingga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan. Hasil investasi dari wakaf uang dapat diberikan kepada mauquf alaihi yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan mereka, sehingga dapat berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan (SDGs #1) dan ketimpangan ekonomi (SDGs #10),” terangnya.

Untuk wakaf sumur, kita bisa mencontoh Utsman Bin Affan RA yang membeli sumur dari seorang Yahudi dan mewakafkannya untuk kepentingan umat. Keberadaan sumur itu pun masih ada hingga sekarang. Wakaf air dapat mencapai tujuan dari SDGs di antaranya adalah tersedianya air bersih dan sanitasi yang layak (SDGs #6). Air dari wakaf sumur ini dapat didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Sementara itu, wakaf dalam bentuk hutan memang masih terbilang sangat baru, bahkan di Indonesia hanya terdapat empat lokasi dari hutan yang memiliki akad wakaf. Lokasi adanya hutan wakaf di Indonesia ada di Aceh, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bogor dan di Jawa Timur.

Konsep dari wakaf hutan adalah memanfaatkan aset wakaf berupa tanah dan mengelolanya menjadi hutan. Hutan yang memiliki akad berupa wakaf dilindungi oleh hukum agama maupun negara, sehingga keberadaan hutan wakaf abadi dan akan tetap menjadi hutan bahkan hingga kiamat. Konsep dari hutan wakaf ini sangat efektif untuk dapat menjaga kelestarian hutan dan keseimbangan ekosistem dari hutan. Ditambah keberadaan hutan juga penting bagi keberlangsungan hidup manusia (sebagai paru-paru dunia).

Wakaf hutan dapat mencapai tujuan SDGs di antaranya dengan peningkatan dan pelestarian pendapatan masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Hal ini dikarenakan ekosistem hutan menjadi sumber pendapatan bagi banyak orang. Ekosistem hutan juga menjadi sumber makanan sehingga dapat mendukung tujuan SDGs berupa masyarakat tanpa kelaparan (SDGs#2). Hutan juga menjadi tempat tinggal bagi tanaman-tanaman herbal sehingga dapat menjadi sumber obat-obatan, yang mendukung kehidupan yang sehat dan sejahtera (SDGs #3).

Sungai yang mengalir di hutan wakaf juga bisa menjadi sumber air bersih sehingga mendukung tujuan SDGs persediaan air bersih dan sanitasi yang layak, demikian pula sebagai penjaga keseimbangan iklim (SDGs #13) dan sumber keanekaragaman hayati (SDGs #15).

“Tujuan ini akan semakin terasa kalau wakaf hutan digalakkan dan dikembangkan secara optimal. Dalam hal ini, IPB University yang sangat memiliki kompetensi dalam bidang pengembangan sumberdaya alam (natural resource management) dan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) bisa berperan besar,” ujarnya.

Dan untuk wakaf pendidikan dan kesehatan, dana wakaf dapat digunakan untuk membangun rumah sakit (sarana kesehatan) dan membeli peralatan kesehatan serta pelayanan yang diberikan dapat digratiskan sehingga masyarakat miskin pun dapat merasakan pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Begitupula dalam pendidikan, dana wakaf dapat digunakan untuk membangun sekolah di pelosok dan menggunakannya untuk pembelian alat pendukung kegiatan mengajar. Biaya sekolah juga dapat digratiskan karena memakai dana wakaf sehingga masyarakat yang tidak mampu membayar biaya bulanan sekolah dapat mengeyam pendidikan yang baik.

“Dengan demikian, wakaf pendidikan dan kesehatan juga mendukung tujuan SDGs yaitu kesehatan yang baik (SDGs #4) dan pendidikan yang bermutu (SDGs #4). Hal ini sudah jelas bahwa manfaat dari wakaf nyata terasa oleh masyarakat bahkan hingga masyarakat pelosok sekalipun. Selain dari jenis wakaf yang disebutkan sebelumnya, dana wakaf juga dapat digunakan untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat (SDGs #9). Pendistribusian harta dari wakif kepada mauquf alaihi pun dapat mengurangi ketimpangan antar kelompok masyarakat (SDGs#10),” tandasnya. (**/Zul)

 



Published Date : 11-May-2020

Resource Person : Dr M Iqbal Irfany

Keyword : dosen IPB, Wakaf Hutan, Wakaf Uang, Wakaf Sumur, Wakaf Pendidikan dan Kesehatan, IPB University

SDG : SDG 1 - NO POVERTY