Dosen IPB University Bahas New Normal Setelah Pandemi


Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (SKPM-Fema) IPB University mengadakan kegiatan Diskusi Ekologi Pembangunan dan Kebudayaan. Diskusi daring yang dilakukan pada 11/5 ini diselenggarakan lewat aplikasi zoom. Dalam diskusi yang mengangkat topik "COVID-19: The Old Normal and The New Normal” ini banyak diurai seputar kebiasaan baru yang akan muncul akibat masa pandemi.

Hadir sebagai pembicara adalah para dosen IPB University dari Departemen SKPM yaitu Dr Rilus Kingseng sebagai pakar perubahan sosial dan sosiologi pedesaan dan Dr Satyawan Sunito sebagai pakar kependudukan, agraria, dan ekologi politik.

Dr Arya Hadi Dharmawan, Ketua Departemen SKPM IPB University dalam sambutannya mengatakan pandemi COVID-19  berkemungkinan mengubah desain besar tentang tatanan sosial dan tatanan politik yang ada saat ini. Eksistensi umat manusia sedang diuji di dalam sistem ekologi. Menurutnya, perlu upaya-upaya dari peneliti sosial untuk turut serta menganalisis perubahan sosial yang ada, guna kesejahteraan umat manusia.

Dr Rilus selaku pembicara pertama, mempresentasikan tentang tatanan sosial baru yang berubah di masa pandemi. COVID-19 diangap sebagai salah satu penyebab disrupsi atau perubahan terbesar di abad 21 sehingga terjadi perombakan pola komunikasi yang sekaligus mengubah pola tindakan masyarakat.

“COVID-19 sangat sosiologis, dalam proses penyebaranya ataupun dampaknya. Saat ini terjadi perombakan basis komunikasi, dari yang dulunya bertatap muka menjadi komunikasi mayoritas menggunakan media. Banyak terjadi dinamika sosial seperti pengucilan dan tidak adanya ritual agama yang biasanya dilakukan di masyarakat Indonesia,” ujar Rilus.
 
Lebih lanjut, Dr Rilus berpendapat setidaknya ada empat normal baru yang akan eksis di masyarakat. Pertama, pola hidup akan lebih sederhana khususnya untuk masyarakat yang mengalami penurunan strata sosial akibat kehilangan pekerjaan. Kedua, masyarakat akan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Pasalnya beberapa praktik hidup sehat, seperti mencuci tangan, menggunakan masker, dan olahraga akan menjadi perilaku yang normal di masyarakat.

“Ketiga adalah media online akan semakin banyak digunakan di berbagai kegiatan seperti seminar, mengajar, rapat, konsultasi, belanja, dan kegiatan lainnya. Meskipun untuk kegiatan pembelajaran tetap akan kembali pada pertemuan tatap muka langsung, tapi penggunaan media sebagai sarana akan semakin jamak,” ujarnya.

Keempat adalah semakin menguatnya gerakan sosial yang dilakukan oleh relawan-relawan dari masyarakat. Kegiatan advokasi dan prinsip gotong-royog akan semakin kuat di budaya masyarakat. Pandemi COVID-19 membuat modal sosial masyarakat menguat, hal ini terbukti dari banyaknya individu maupun kelompok yang melakukan kegiatan penggalangan dana dan penyaluran bantuan.

Sementara Dr Satyawan Sunito menambahkan bahwa perubahan terbesar ada di ranah publik. Adapun ranah personal tidak banyak berubah, justru semakin membaik. Misalnya, makna keluarga akan lebih kuat di masyarakat karena orang-orang terbiasa di rumah. Selain itu, pembedaan budaya akan lebih melemah.

“Orang-orang akan terbiasa dengan budaya global. Bukan lagi adat barat atau adat timur. Karena komunikasi online melepas sekat-sekat jarak dan waktu. Namun, untuk kalangan menengah ke bawah akan terjadi  dinamika dan merasakan dampaknya,” ujar Satyawan.

Menurutnya saat ini pekerjaan manual masih mendominasi dan masyarakat kelas menengah ke bawah yang paling banyak melakukan pekerjaan manual. Di samping itu, ia juga menyebutkan akan terjadi penurunan produktivitas kerja yang berkemungkinan menurunkan status ekonomi dan sosial sehingga Hal inilah yang patut diwaspadai bersama. (NA/RA)


 



Published Date : 13-May-2020

Resource Person : Dr Satyawan Sunito

Keyword : dosen IPB, SKPM IPB, Fema IPB, sosial COVID-19, new normal

SDG : SDG 3 - GOOD HEALTH AND WELL-BEING