CTSS IPB University Gelar Diskusi Daring Bahas Masyarakat Desa di Masa Pandemi COVID-19


Pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini memberikan dampak terhadap masyarakat luas tak terkecuali masyarakat pedesaan. Pasalnya masyarakat pedesaan saat ini memiliki respon yang berbeda terhadap pandemi COVID-19 tersebut. Oleh karena itu, Center for Transdisciplinary and Sustainability System (CTSS) Lembaga Penelitian dan Pengqbdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University menggelar diskusi secara daring dengan tema “Masyarakat Pedesaan dan Pandemi COVID-19.” Kegiatan yang digelar pada 7/5 itu menghadirkan pembicara David Ardhian, CTSS Fellow IPB University.

Direktur CTSS IPB University, Prof Dr Damayanti Buchori menjelaskan kondisi desa di Indonesia berbeda dengan kondisi perkotaan baik dari segi biophysical maupun culture budayanya. Adanya pandemi COVID-19 ini dapat menjadi pembelajaran bersama tentang apa yang sebenarnya terjadi di desa-desa.

“Kita dulu punya desa-desa tradisional yang masing menganut marga maupun nagari, di seluruh Indonesia itu desa punya karakter-karakter desa yang berbeda satu sama lain dan disitulah letak resiliensinya karena adanya kebersatuan yang utuh antara budaya dan kondisi ekologis lokal,” ungkap dosen IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman ini.

Dengan adanya kebijakan penyeragaman antar desa di Indonesia, menyebabkan ciri lokalitas desa tersebut menjadi hilang. Di samping itu, pandemi COVID-19 ini memiliki peluang dan potensi untuk kembali melakukan refleksi ulang terhadap kebijakan-kebijakan yang menyangkut lokalitas desa.

Pada kesempatan ini, David Ardhian menjelaskan ada tiga hal yang terjadi di desa akibat dari pandemi COVID-19 yang saat ini terjadi. Tiga hal tersebut adalah adanya pelimpahan tenaga kerja di pedesaan, desa sebagai penyangga pangan nasional dan munculnya generasi pembaharu dari desa.

“Champion dari desa umumnya lahir dari krisis dan berusaha membawa nilai-nilai lokalitas yang sudah dianut. Generasi baru atau champion ini akan lahir pada jamannya untuk menjawab tantangan yang sedang terjadi,” paparnya.

Dari fenomena tersebut, David mengusulkan supaya perlu dilakukan kajian ulang untuk melakukan deevolusi penuh terhadap kebijakan otonomi daerah dan desa sehingga desa tersebut dapat mengatur sendiri sesuai dengan kemampuannya. Ia juga mengusulkan untuk terus melahirkan champion lokal dan memberi pelajaran tentang ketahanan pangan.

“Ketahanan pangan ini tidak hanya soal kuantitas pangan yang banyak, tetapi termasuk di dalamnya adalah kualitas pangan itu sendiri,” ungkapnya.

Usulan tersebut ia sampaikan karena dari krisis-krisis yang terjadi di Indonesia selama ini, desa selalu menjadi penyangga bagi negara sehingga negara mampu mengatasi krisis yang terjadi. Tidak hanya sektor pangan, desa juga menjadi bagi penyangga sektor ekonomi karena banyak usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang ada di desa. (RA)

 



Published Date : 13-May-2020

Resource Person : Prof Dr Damayanti Buchori

Keyword : CTSS IPB, dosen IPB, desa, COVID-19, pangan, ekonomi, lokalitas desa, nasib desa di tengah Covid

SDG : SDG 4 - QUALITY EDUCATION