Alumni IPB University Ini Bagikan Cara Kreatif Galang Donasi


Pandemi COVID-19 membuat banyak pihak berbondong-bondong melakukan penggalangan dana untuk membantu masyarakat terdampak.  Drh Feb Azimatus Saidah, Alumni Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University berbagi kisah kreatif menggalang donasi.

Berdasarkan pengalamannya saat mendampingi suami (dosen IPB University) menempuh pendidikan di luar negeri, drh Feb mengatakan bahwa penggalangan dana yang dilakukan Adelaide, Australia tidak selalu meminta sumbangan berupa uang. Mereka terbuka menerima siapa saja untuk bisa ikut berdonasi sesuai dengan kemampuan dan sumber daya masing-masing. Dari gerakan mereka yang kreatif ini, sumbangan yang masuk beraneka ragam.

Ada donatur yang menyumbangkan telur ayam hasil ternak sendiri. Ada donatur yang menyumbangkan daun jeruk yang dipetik dari halaman rumah. Ada pula donatur lain menyumbang kemampuannya menjahit kerajinan dari kain batik, dimana kain batik tersebut adalah sumbangan dari donatur lainnya.  Atau sumbangan berupa olahan kentang dan jamu juga ikut didonasikan. Sumbangan-sumbangan ini kemudian dijual, dan hasilnya digunakan untuk memenuhi keperluan donasi.

“Upaya kreatif dalam penggalangan dana terbukti mampu mengajak masyarakat dari berbagai lapisan untuk dapat berpartisipasi aktif. Jadi donasi tidak identik dengan mengeluarkan uang semata. Dengan ini, masyarakat kecil yang misalnya memiliki tanaman di pekarangannya pun dapat mendonasikan hasil panen tanaman tersebut. Sangat mudah dan dapat dilakukan masyarakat di Indonesia juga, bukan?” ujarnya.

Menurutnya, sayang ide seperti ini belum banyak digaungkan dan dilakukan dengan baik di Indonesia saat ini. “Bisa dipahami mungkin karena keterbatasan dalam beraktivitas sebagai konsekuensi dari himbauan work from home, learning from home, praying from home hingga kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).  Namun, bukan berarti kondisi tersebut membuat kita tidak kreatif dalam melakukan penggalangan donasi, “ tuturnya.

Ia melanjutkan, “Setiap diri kita bisa berkontribusi dengan masing-masing potensi dan sumberdaya yang dimiliki. Mungkin kita punya keahlian memasak untuk membantu penggalangan dana, mungkin kita punya kontak whatsapp group, mungkin kita punya pohon pisang dan kelapa yang ada buahnya dan siap panen untuk kita donasikan. Pun seandainya merasa tak punya apa-apa, setidaknya bisa menjadi relawan yang menghubungkan pemilik buah pisang, kelapa dan orang dengan keahlian memasak, sehingga menghasilkan produk makanan lalu menjualnya kepada anggota di whatsapp grup ehingga menjadi salah satu sumber penggalangan dana.”  

“Sebagai founder Sauvia, sebuah brand fashion, saya pun berusaha ikut berkontribusi menjadi kepingan puzzle dalam upaya meringankan dampak pandemi COVID-19 ini. Saat ini kami memanfaatkan stock produk yang ada dengan menyumbangkan 100 persen laba penjualan.  Selain itu, Sauvia juga memanfaatkan sisa kain yang semula untuk produksi gamis dialihkan menjadi produk masker. Hasil penjualan masker ini 100 persen didonasikan tanpa dipotong modal sehingga konsumen tidak hanya mendapatkan masker seharga 10 ribu, namun juga telah berdonasi dengan nominal yang sama. Sangat sederhana, namun itu bisa memberi solusi keterbatasan keuangan kami dalam berdonasi lebih,” ujar ibu dari tiga anak ini.  (**/Zul)

 



Published Date : 28-Apr-2020

Resource Person : Drh Feb Azimatus Saidah

Keyword : Sauvia, FKH, COVID-19, IPB University

SDG : SDG 3 - GOOD HEALTH AND WELL-BEING, SDG 1 - NO POVERTY