Dosen IPB University Ajak Publik Mengenal Wakaf Uang dan Manfaatnya


Berdasarkan Undang-Undang No 41 Tahun 2004 tentang Wakaf disebutkan bahwa Wakaf adalah perbuatan hukum wakif (pemberi wakaf) untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah.

Mayoritas masyarakat muslim Indonesia selama ini mengenal wakaf dalam bentuk benda tidak bergerak, berupa tanah dan bangunan. Padahal wakaf bisa dalam bentuk benda bergerak dan benda tidak bergerak, sebagaimana tertuang pada Pasal 16  Undang-Undang No 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. “Pada pasal tersebut dijelaskan bahwa wakaf benda bergerak yang dimaksud adalah harta benda yang tidak bisa habis karena dikonsumsi, meliputi uang; logam mulia; surat berharga; kendaraan;  hak atas kekayaan intelektual; hak sewa dan benda bergerak lain sesuai dengan ketentuan syariah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ungkap Deni Lubis, Pengelola Dana Lestari dan Wakaf, IPB University.

Deni menjelaskan, dilihat dari waktu pemanfaatan   benda wakaf dibedakan menjadi dua yaitu muabbad (selamanya) dan muaqqot (jangka waktu tertentu). Wakaf muabbad adalah seseorang memberikan harta wakaf untuk dimanfaatkan selamanya, dengan kata lain wakif (orang yang berwakaf) telah melepaskan kepemilikannya. Adapun wakaf muaqqot adalah penyerahan harta wakaf dalam waktu yang ditentukan untuk dimanfaatkan dengan tidak melepas hak kepemilikannya.

Deni mencontohkan, seseorang bernama Ali memiliki rumah yang diwakafkan selama lima tahun kepada pengelola wakaf (nadzir). Pengelola wakaf memanfaatkan rumah tersebut untuk kegiatan pengajian, tempat tinggal mahasiswa yang kurang mampu dan kegiatan sosial lainnya sampai batas waktu yang sudah ditentukan. Atau bisa juga pengelola wakaf menyewakan rumah kepada pihak ketiga, kemudian hasil sewanya digunakan untuk kemaslahatan umum seperti memberi makan fakir miskin, beasiswa maupun bantuan kesehatan. Setelah sampai batas waktunya maka Ali dapat mengambil kembali rumahnya.

Kasus lain misalnya, Hamzah memiliki surat berharga syariah (sukuk) senilai Rp1 Milyar, kemudian Hamzah ingin agar keuntungan bagi hasil dari sukuk tersebut diwakafkan selama lima tahun untuk kemaslahatan bersama lewat lembaga wakaf, setelah lima tahun Hamzah mengambil kembali pokoknya sebesar Rp1 Milyar.  

Dalam praktiknya, lanjut Deni, ada wakaf uang dan wakaf melalui uang. Wakaf melalui uang yaitu seseorang memberikan wakaf untuk pembangunan masjid atau pembebasan tanah wakaf. Pengurus wakaf kemudian membelanjakan uang tersebut sesuai dengan akad pewakaf.

Adapun wakaf uang yaitu ketika uangnya yang menjadi benda wakaf, sehingga uangnya tidak boleh berkurang dan tidak boleh rusak, seperti wakaf untuk tanah dan bangunan yang tidak berkurang dan rusak. Maksud dari tidak boleh berkurang dan tidak boleh rusak bukan berarti tidak bisa rusak dan tidak bisa hilang, karena tanah dan bangunan pun bisa rusak dan hilang karena bencana atau karena termakan usia sehingga nilai bangunannya turun. Sama halnya dengan wakaf uang, bisa saja nomimalnya tetap, tetapi nilai riilnya berkurang.

“Wakaf mensyaratkan bendanya harus tetap, agar objek wakaf tersebut tetap namun dapat memberikan manfaat, maka pengurus wakaf (nadzir) dapat menginvestasikan wakaf uang tersebut lewat surat berharga syariah (sukuk), deposito syariah, atau investasi di sektor riil yang aman dan terpercaya,” tambah Deni.

Dari bagi hasil kegiatan investasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama, seperti untuk beasiswa, memberi makan fakir miskin, pemberdayaan masyarakat dalam bentuk bantuan modal atau sarana produksi, dan lainya yang sesuai dengan syariah.

Sementara itu, Alla Asmara, Kepala Unit Pengelola Dana Lestari dan Wakaf IPB University menjelaskan, wakaf uang relatif lebih mudah dan ringan dibandingkan dengan wakaf benda lainnya. Hal ini karena wakaf uang tidak harus menunggu kaya untuk dapat berwakaf. “Wakaf uang nominalnya tidak dibatasi, bisa Rp 10 ribu, Rp 100 ribu, Rp 1 juta atau lebih, sesuai dengan kemampuan. Dengan wakaf uang semua orang bisa berwakaf sesuai kemampuannya,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, wakaf uang memudahkan wakif untuk berwakaf. Wakif dapat berwakaf kapan saja dan dari mana saja seiring dengan semakin berkembangnya teknologi finansial. Di sisi lain, wakaf uang juga meningkatkan potensi penghimpunan dana wakaf oleh para nazhir (pengelola wakaf).

Wakaf tidak seperti zakat yang memiliki ketentuan haul (harta harus setahun) dan nisab (batas minimal) mengeluarkan zakat. Wakaf uang dapat dilakukan kapan saja, bisa mingguan, bulanan, tahunan dengan nominal yang tidak dibatasi. pengelolaan harta wakaf berbeda dengan zakat, dana zakat harus habis dibagikan kepada mustahik, sedangkan wakaf nilai  pokoknya harus tetap bahkan dapat bertambah setiap tahunnya seiring dengan banyaknya yang berwakaf.

“Karena wakaf sifatnya abadi, maka yang dibagikan kepada mustahik bukan pokoknya tetapi hasil dari investasi atau usaha yang dihasilkan dari harta wakaf, sehingga dana wakaf akan terus berkembang dan akan memberi manfaat lebih banyak bagi mereka yang membutuhkan,” tambah Alla.

Dengan demikian, lanjut Alla, semakin besar dana wakaf yang terhimpun maka semakin banyak manfaat yang dapat diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Wakaf yang abadi akan memberikan pahala abadi yang mengalir terus menerus kepada pewakaf, walaupun sudah meninggal dunia. Maka akan sangat merugi bagi mereka yang tidak pernah berwakaf, karena dia tidak memiliki tabungan amal di akhirat kelak ketika semua amalnya sudah terputus. (*/RA)


 



Published Date : 26-Mar-2020

Resource Person : Deni Lubis

Keyword : wakaf, IPB University, wakaf uang, wakaf tanah, wakaf bangunan