Rektor IPB University: Kurikulum IPB K2020, Skripsi Bisa Dikerjakan dengan Kelompok


Pada bulan Agustus mendatang, IPB University mulai implementasikan Kurikulum IPB 2020. Kurikulum tersebut selaras dalam membawa perguruan tinggi menuju arah kampus merdeka. Hal ini disampaikan Rektor IPB University, Prof Dr Arif Satria saat menjadi pembicara di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Surabaya (14/2).

Menurutnya saat ini IPB University sudah melakukan berbagai tranformasi dalam merespon VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) dan Revolusi Industri 4.0. Dalam merespon perubahan, yang paling bisa survive bukanlah yang terkuat, bukan yang paling pintar. Namun mereka yang responsif terhadap perubahan yang bisa survive.

IPB University banyak melakukan mapping dengan membayangkan pertanian masa depan seperti apa. Sehingga ditarik dalam sebuah Roadmap Agromaritim IPB 4.0 dan  kurikulum IPB 2020. Roadmap ini nanti yang mendasari riset apa yang akan dibuat ke depan. Bagaimana membangun smart farming dan precision farming. Ini sudah menjadi keniscayaan. Dengan roadmap arah riset menjadi jelas, membuat pabrik tanaman atau plant factory, smart detection, deteksi manis asam buah lewat smartphone, deteksi species ikan yang ada di bawah laut, penafsir tangisan bayi lewat smartphone. Itu semua karya mahasiswa dan dosen IPB University,” ujarnya.

Rektor menyampaikan bahwa akibat perkembangan teknologi, ada beberapa pekerjaan yang mengalami perubahan bahkan diprediksi akan hilang. Namun seiring dengan hal tersebut akan tumbuh juga pekerjaan-pekerjaan baru.

IPB University melihat akan ada pekerjaan yang muncul di 2022. Yaitu terkait analis data dan data saintis. Sehingga untuk merespon hal tersebut IPB University membuat program studi prodi baru yang relevan,” ucapnya.

Terkait Kampus Merdeka yang digaungkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Arif menyampaikan hal ini sudah tertuang dalam kurikulum IPB 2020. Dalam kurikulum baru ini, arahnya untuk menciptakan powerful agile learner atau orang-orang pembelajar.

“Kita tidak tahu apa yang terjadi pada tahun 2030. Sehingga yang akan disiapkan adalah orang-orang pembelajar. Selain kuat dengan softskill, kita mendorong terciptanya orang-orang pembelajar. Dalam kurikulum ini, skripsi boleh dikerjakan secara berkelompok. Tujuannya untuk melatih kemampuan kolaborasi. Contohnya, ketika ingin mengembangkan smart farming, maka dalam melakukan penelitian mahasiswa perlu kolaborasi antara mahasiswa agronomi dan ilmu komputer. Skripsi kelompok juga untuk menunjang dalam merespon karakteristik pekerjaan yang dituntut mampu berkolaborasi,” tandasnya. (dh/Zul)



Published Date : 17-Feb-2020

Resource Person : Prof Dr Arif Satria

Keyword : Rektor, Prof Dr Arif Satria, IPB University, Kampus Merdeka, Skripsi