IPB Jadi Tuan Rumah Koordinasi Riset Kolaborasi Indonesia 2019


Dalam rangka menjalin antar peneliti Empat Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH), Sabtu (23/2) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor (LPPM IPB) menjadi tuan rumah penyelenggara acara Koordinasi dan Penandatanganan Kontrak Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) Tahun 2019 di  IPB International Convention Center – Bogor.

Koordinasi dan penandatanganan kontrak RKI ini dihadiri  Rektor IPB, Dr. Arif Satria, Kepala LPPM empat PTNBH dan peneliti dari empat PTNBH.

Kepala LPPM IPB, Dr. Aji Hermawan menyambut baik riset kolaborasi antar empat PTNBH sebagai upaya untuk meningkatkan publikasi dan indeks sitasi perguruan tinggi. Prof. Agik Suprayogi, Ketua Pelaksana melaporkan bahwa Riset Kolaborasi Tahun 2019 melibatkan 53 peneliti dari empat PTN-BH, dengan jumlah judul penelitian yang didanai sebanyak 13 judul. “Dalam RKI ini IPB melibatkan tiga peneliti sebagai peneliti utama, dan sepuluh peneliti sebagai mitra peneliti. Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Airlangga (UNAIR) masing-masing melibatkan tiga peneliti sebagai peneliti utama dan sepuluh peneliti sebagai peneliti mitra, sedangkan ITB melibatkan empat peneliti sebagai peneliti utama dan sembilan peneliti sebagai peneliti mitra. RKI tahun 2019 merupakan tahun kedua dilaksanakannya Riset Kolaborasi Indonesia. RKI menjadi salah satu strategi untuk menjawab tantangan penelitian yang bersifat trans-multidisiplin dalam menghasilkan inovasi bagi kemajuan bangsa dan negara,” papar Prof. Agik.

Prof. Suprijadi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), koordinator RKI empat PTNBH menyampaikan bahwa RKI sudah diinisiasi sejak Agustus 2017, kemudian dibuka pertama kali dalam bentuk call proposal pada tahun 2018, dan saat ini menjadi tahun kedua. Penyelenggaraan acara koordinasi dan penandatanganan kontrak RKI dengan mengundang semua peneliti dan pimpinan LPPM empat PTNBH bertujuan untuk menjawab sejumlah masalah yang dihadapi pada tahun sebelumnya. RKI 2018 menunjukkan lemahnya koordinasi antar peneliti utama dan mitra peneliti, sehingga hal tersebut menyebabkan terhambatnya sinkronisasi schedule dan data penelitian antar peneliti untuk memenuhi luaran penelitian berupa publikasi. 

RKI sendiri merupakan sebuah kolaborasi penelitian antar empat perguruan tinggi negeri berbadan hukum yaitu IPB, UGM, ITB dan Unair. RKI menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan jumlah publikasi dan indeks sitasi yang merupakan komponen utama yang dijadikan rujukan dalam sistem perangkingan perguruan tinggi. Penelitian yang didanai RKI diwajibkan menghasilkan luaran berupa satu jurnal terindeks scopus Q2, dan tiga publikasi terindeks scopus. Sehingga Prof. Agik menyampaikan bahwa tahun ini setidaknya penelitian RKI akan menghasilkan 52 publikasi terindeks scopus, melebihi capaian tahun sebelumnya yang disampaikan Prof. Suprijadi yaitu sebanyak 40 publikasi terindeks scopus. 

Dr. Arif Satria dalam sambutan sekaligus menutup acara tersebut menyampaikan bahwa RKI menjadi sebuah ikhtiar yang baik dalam memenuhi target inovasi yang harus dihadirkan oleh perguruan tinggi. Penelitian transmultidisiplin dalam riset kolaborasi akan menghasilkan inovasi yang akan menjawab tantangan perkembangan masyarakat. RKI ini juga menurutnya akan meningkatkan jumlah sitasi publikasi nasional. (rd/ris)



Published Date : 28-Feb-2019

Resource Person : Dr. Arif Satria

Keyword : Riset Kolaborasi, PTNBH, Arif Satria, scopus, jurnal

SDG : SDG 9 - INDUSTRY, INNOVATION AND INFRASTRUCTURE, SDG 17 - PARTNERSHIPS FOR THE GOALS