Pakar IPB Kurangi Rasa Getir Pada Daun Torbangun

Pakar IPB Kurangi Rasa Getir Pada Daun Torbangun

pakar-ipb-kurangi-rasa-getir-pada-daun-torbangun-news
Riset

Pemenuhan pangan pada negara berkembang dalam mewujudkan kedaulatan pangan adalah target utama yang hingga saat ini masih terus dilakukan. Pemuliaan tanaman pangan tentu sudah sering didengar masyarakat Indonesia. Berbagai riset telah dilaksanakan oleh para peneliti dalam menghasilkan varietas unggul agar memperoleh produktivitas tinggi dan lestari untuk lingkungan.

Di sisi lain, selain pengembangan riset tentang pangan, Indonesia juga memiliki satu potensi lain yaitu tanaman hias tropis. Tanaman hias tropis merupakan tanaman yang tumbuh subur di Indonesia yang juga memiliki manfaat lain baik sebagai obat maupun kosmetik. Peningkatan keragaman pada tanaman hias tropis dapat dilakukan melalui beberapa cara pemuliaan baik dengan bioteknologi maupun secara konvensional. Misalkan dengan hibridisasi (menyilangkan antara bunga jantan dari tanaman A dengan bunga betina dari tanaman B yang memiliki karakter berbeda) ataupun dengan cara mutasi induksi.

Mutasi Induksi (induced mutation) merupakan upaya untuk mengubah susunan gen atau kromosom yang dapat dilakukan dengan cara menggunakan mutagen fisik, mutagen kimia maupun mutagen biologis.

Dr. Syarifah Iis Aisyah sebagai salah satu dosen Institut Pertanian Bogor (IPB), Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian telah mendalami mutasi induksi pada berbagai tanaman hias tropis di Indonesia. Tujuannya untuk meningkatkan nilai manfaat pada tanaman hias tropis itu sendiri. 

“Banyak tanaman hias tropis yang ternyata mengandung metabolit sekunder yang dapat bermanfaat untuk obat. Contohnya seperti tanaman jengger ayam (Celosia cristata) untuk bahan obat diabetes, daun krokot (Portulaca oleracea) untuk bahan kosmetik, dan torbangun (Coleus amboinicus) untuk meningkatkan Air Susu Ibu (ASI). Melalui mutasi genetik, kandungan senyawa metabolit sekunder ini dapat ditingkatkan,” terangnya.

Salah satu tanaman yang sedang diteliti dengan pemanfaatan mutasi induksi oleh Dr. Syarifah Iis dan tim adalah torbangun (Coleus amboinicus). Tanaman torbangun banyak digunakan di daerah Sumatera Utara untuk meningkatkan ASI, namun rasa getirnya sangat tinggi. Tanaman ini memiliki kandungan laktagogum yang lebih tinggi dibandingkan tanaman katuk. Melalui mutasi genetik secara fisik dengan iradiasi sinar gamma, maka rasa getir yang terkandung di dalamnya dapat dikurangi. “Ini masih dalam penelitian, apakah rasa getir ini bertautan juga dengan kandungan senyawa penghasil ASI atau tidak,” tambahnya.

Dari riset ini, pengembangan keragaman tanaman melalui mutasi genetik terhadap tanaman hias tropis perlu terus dilakukan. Ada peluang pasar yang besar yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. “Banyak Pemerintah Daerah yang ingin menjadi sentra suatu komoditi tanaman tropis. Contohnya saja seperti agenda Florikultura yang diadakan setahun sekali, banyak daerah ingin menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan acara tersebut. Hal ini tentu akan sangat bagus untuk meningkatkan penghasilan suatu daerah,” tutup Dr. Syarifah Iis Aisyah.(SM/Zul)