Indonesia Penyumbang Sampah Plastik di Laut Terbesar Kedua di Dunia


Asisten Deputi Pelatihan dan Pendidikan, Kementerian Koordinator Kemaritiman Republik Indonesia, Dr. TB Haeru Rahayu mengatakan bahwa Indonesia menduduki posisi kedua setelah Tiongkok sebagai penghasil limbah plastik di laut terbesar di dunia. Ini terlihat dari penobatan Sungai Citarum sebagai sungai terkotor di dunia. Hal ini disampaikannya saat menghadiri International Workshop on Marine Biodiversity, Understanding, Utilization and Conservation di Institut Pertanian Bogor (IPB) International Convention Center (IICC), Bogor (10/10).

Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mengurangi limbah melalui pengurangan, penggunaan kembali dan daur ulang (3R: Reduce, Reuse and Recycle) hingga 30 persen pada tahun 2025. Pemerintah juga menargetkan pengurangan sampah plastik sebesar 70 persen pada 2025.

“Limbah tidak bisa lagi dikelola hanya di hilir, tetapi juga dari hulu atau sebelum menjadi sampah yang dibuang begitu saja. Penanganannya langsung ke sumber masalah, melibatkan semua pemangku kepentingan, mental masyarakat harus berubah untuk memainkan peran dalam mengurangi sampah dari hulu,” ujarnya dalam acara yang digagas oleh Enhancing Marine Biodiversity Research (EMBRIO), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB ini.

Sementara itu, Rektor IPB, Dr. Arif Satria dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan ajang bagi peneliti untuk melakukan kolaborasi internasional dalam menghasilkan karya-karya saintifik yang luar biasa.

“IPB beberapa hari lalu telah mengadakan seminar terkait dengan Sustainable Development Goals (SDGs.) Kita berkomitmen untuk mencapai poin-poin yang tercantum dalam SDGs. Dalam SDGS ada 40 elemen terkait bawah air dan 10 persennya merupakan area konservasi. Kita tahu bahwa organisme laut berkontribusi pada banyak proses penting yang memiliki efek langsung dan tidak langsung pada kesehatan lautan dan manusia. Yang jelas adalah bahwa ada spesies dan kelompok fungsional tertentu yang memainkan peran penting dalam proses ekosistem. Kehilangan spesies tertentu mungkin memiliki pengaruh yang signifikan terhadap seluruh ekosistem. Oleh karena itu, mengapa workshop dua hari ini sangat penting untuk kemajuan semua kehidupan kita melalui penyediaan pengetahuan, teknologi, dan ilmu pengetahuan untuk pemanfaatan dan konservasi keanekaragaman hayati laut,” jelas Rektor IPB.

Sementara itu, menurut Direktur Embrio, Dr. Mala Nurilmala, pada hari pertama ini para peneliti dan mahasiswa dari Jepang dan Australia (partner Embrio) akan mempresentasikan hasil penelitiannya. Kemudian di hari kedua akan diselenggarakan coaching clinic yang berisi pelatihan bagaimana menulis di jurnal international dari berbagai pembicara yang bereputasi di kalangan penulis baik dari Jepang maupun dari Australia.

“Mereka akan sharing bagaimana cara menulis yang baik. Kita ingin mendukung supaya paper-paper yang berada di ranah marine biodiversity ini bisa dipublikasikan dengan baik,” ujarnya di hadapan peserta yang datang dari seluruh Indonesia. Diantaranya peneliti dan mahasiswa dari Jakarta, Riau, Bandung, Aceh. 

Harapannya peserta bisa bertemu langsung dengan para reviewer kemudian mendapatkan tambahan informasi terkait bagaimana menulis yang baik hingga submit ke jurnal-jurnal bereputasi.

Hal ini didukung oleh Dekan FPIK IPB, Dr. Ir. Luky Adrianto yang mengatakan bahwa Embrio ini merupakan platform baru untuk meningkatkan publikasi termasuk jurnal dan prosiding agar mendapat kualitas lebih baik lagi. Acara ini juga bagian dari strategi untuk saling berkolaborasi antara peserta yang hadir.(dh/Zul)



Published Date : 11-Oct-2018

Resource Person : Dr. Arif Satria

Keyword : International Workshop, limbah, plastik, laut