Himasper IPB Gelar Pelatihan Penanganan Mamalia Terdampar

Himasper IPB Gelar Pelatihan Penanganan Mamalia Terdampar

himasper-ipb-gelar-pelatihan-penanganan-mamalia-terdampar-news
Berita

Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan, Institut Pertanian Bogor (Himasper IPB) menyelenggarakan Pelatihan Penanganan Mamalia Terdampar. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Diskusi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Kampus IPB Dramaga, Bogor (8-9/9). Pelatihan ini juga melakukan praktik di Kolam Renang Cinangneng.

Sebelum mempelajari penanganan mamalia terdampar, peserta diajak untuk mengenal terlebih dahulu jenis-jenis mamalia laut. Peneliti dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (ITK FPIK IPB), Adriani Sunuddin, S.Pi, M.Si memaparkan jenis-jenis mamalia laut yang ada di Indonesia. Sebanyak 35 jenis mamalia laut dapat ditemukan di perairan Indonesia. Mamalia laut memiliki kemampuan menahan nafas cukup lama untuk menyelam. Hal tersebut didukung oleh anatomi dan morfologi khas yang dimilikinya. Penglihatan mamalia laut tidak begitu tajam. Mamalia laut memiliki kemampuan untuk mengubah sistem indra dari visual menjadi audio dan mengembangkan komunikasi suara.

Penanganan mamalia terdampar yang tepat merupakan hal yang penting. Hal tersebut perlu dilakukan untuk meningkatkan peluang kehidupan satwa. Selain itu, dokumentasi yang tepat dapat memahami pengelolaan kawasan konservasi, mengetahui kegiatan di laut yang tidak lestari, dan persebaran satwa laut di Indonesia. Penanganan mamalia laut secara umum digolongkan menjadi dua kondisi yaitu kondisi hidup dan mati. Penanganan yang tepat pada mamalia laut yang masih hidup adalah diselamatkan. Setelah peserta mempelajari teorinya, simulasi praktik penyelamatan mamalia terdampar dilakukan baik di dalam dan di luar ruangan.

Kejadian terdamparnya mamalia laut dapat disebabkan oleh beberapa hal. Hal tersebut antara lain adalah sakit, faktor umur, dimangsa predator, cuaca buruk, disorientasi (gempa dasar laut, gangguan pada sistem sonar, aktivitas seismic, dan suara kapal), ditangkap langsung, dibom, ditombak, terjerat jaring nelayan secara tidak sengaja, kualitas air laut yang buruk karena pencemaran, serta tabrakan dengan kapal.

“Kejadian mamalia terdampar akhir-akhir ini sering sekali dilaporkan pada kami. Hampir setiap bulan. Fenomena ini terjadi di berbagai daerah. Lebih dari 300 kasus sejak tahun 2000. Hal tersebut tidak dapat menyatakan secara langsung bahwa keadaan alam sedang tidak baik. Jika dilihat dampak positifnya, hal tersebut terjadi karena semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya penanganan mamalia terdampar,” ungkap konservasionis dari Whale Stranding Indonesia, Sheyka Nugrahani Fadela.

Pelatihan Penanganan Mamalia Terdampar ini merupakan salah satu rangkaian program kerja dari Division of Environmental and Social Himasper IPB yang diberi nama Career Development Training (CDT). CDT memiliki dua rangkaian kegiatan yaitu Pelatihan Dasar Penggunaan ArcGIS dalam Analisis Data Spasial dan Pemetaan serta Pelatihan Penanganan Mamalia Terdampar. Kedua kegiatan tersebut dilakukan secara terpisah. Pelatihan Dasar Penggunaan ArcGIS tersebut dilakukan terlebih dahulu kemudian diikuti dengan Pelatihan Penanganan Mamalia Terdampar.

Pelatihan ini diangkat dari isu-isu yang sering terjadi di bidang Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP). Pelatihan Dasar Penggunaan ArcGIS dilaksanakan untuk melatih softkill peserta dalam pembuatan peta perikanan dalam menghadapi era digitalisasi. Isu lain yang sedang marak terjadi adalah banyaknya kasus mamalia terdampar. Pelatihan Penanganan Mamalia Terdampar mewadahi minat peserta terhadap mamalia laut. Tujuan diadakannya pelatihan tersebut adalah mencetak konservasionis untuk melakukan penanganan yang tepat terhadap adanya peristiwa mamalia terdampar.

“Sebagai mahasiswa dari Departemen MSP, kami memiliki kewajiban untuk terus belajar mengenai pentingnya pengelolaan sumberdaya perairan yang ada. Lewat pelatihan ini kami banyak belajar bagaimana cara mengolah data spasial agar dapat dimanfaatkan sebagaimana semestinya juga mengetahui tata cara yang tepat untuk menangani mamalia terdampar,” tutur Ketua Pelaksana CDT Himasper IPB, Cheptia Amany (AD/Zul).