Guru Besar IPB: Lepaskan Jebakan Pangan dengan Pangan Lokal

Guru Besar IPB: Lepaskan Jebakan Pangan dengan Pangan Lokal

guru-besar-ipb-lepaskan-jebakan-pangan-dengan-pangan-lokal-news
Riset

Dalam rangka memperingati Hari Pangan sedunia, yang diperingati tiap tanggal 16 Oktober, tiga Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) memberikan sumbangsih pemikirannya dengan menggelar jumpa pers bersama di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor, Minggu (16/10). Salah satu Guru Besar yang memaparkan pemikirannya adalah Prof.Dr. Made Astawan.

Ia mengatakan, saat ini Indonesia masih terjebak dalam pola konsumsi yang bertumpu pada dua sumber karbohidrat, yakni beras dan terigu. Sejak tahun 2005, mayoritas masyarakat Indonesia pada berbagai golongan pendapatan sudah terkena “food trap” yakni hanya memiliki dua makanan pokok mie dan beras.

“Untuk bangsa besar seperti Indonesia, kondisi ini sangat berbahaya. Jika hanya bertumpu pada dua pangan pokok apalagi jika bahan tersebut impor, maka ketahanan pangan Indonesia mudah terancam,” ujarnya.

Padahal sejatinya, terangnya, Indonesia memiliki keragaman yang tinggi dalam penyediaan bahan pangan sumber karbohidrat. Ada lebih dari 30 jenis pangan dengan komposisi gizi yang tak kalah dengan beras dan terigu.

Menurutnya, untuk terbebas dari food trap, diperlukan optimalisasi pemanfaatan pangan lokal. Ada tiga strategi optimalisasi yakni evaluasi kebijakan pemerintah terutama pada pemberian raskin tanpa mempertimbangkan budaya dan pola pangan kedaerahan yang telah ada; menghidupkan kembali optimalisasi budidaya pangan lokal; dan perlu program diversifikasi produk olahan berbasis pangan lokal.

“Salah satu program diversifikasi adalah pengembangan usaha pengolahan pangan lokal berbasis tepung-tepungan. Ini karena keterbatasan daya simpan produk segar. Jadi terigu bisa disubstitusi,” terangnya.

Tepung memiliki beberapa keunggulan, lebih awet, lebih mudah disimpan, lebih mudah dalam transportasi dan penjualan, serta lebih mudah dan praktis dalam aplikasinya pada pembuatan berbagai produk, seperti mi, beras analog, aneka kue, dan lain-lain.

Selain itu, konsumsi pangan lokal baik untuk kesehatan. Tingginya kematian akibat penyakit degeneratif menunjukkan pola makan penduduk yang tidak sehat. Seperti konsumi bahan pangan yang kurang beragam, berimbang dan bergizi serta akibat tingginya penggunaan gula, garam dan lemak dalam pengolahan makanan.

“Penyakit ini muncul karena cara makan yang buruk. Karena sudah adopsi pola makan gaya Barat. Cobalah kembali ke pangan lokal. Pangan lokal kaya akan senyawa fitokimia. Senyawa ini bagus untuk cegah penyakit. Contoh dadih (susu kerbau yang difermentasi). Mikroba baik dari dadih ini baik untuk pencernaan. Karena kita kurang menghargai nilai gizi dadih, mikroba baik yang ada di dadih diambil oleh ilmuwan Jepang dan sekarang sudah dipasarkan dalam bentuk minuman fungsional. Inovasi merupakan kata kunci untuk menjadikan pangan lokal dapat diterima dan menarik perhatian masyarakat,” terangnya.(zul)