Guru Besar IPB: Berdayakan Guru Besar Sebagai Aset Pembangunan Negara

Guru Besar IPB: Berdayakan Guru Besar Sebagai Aset Pembangunan Negara

blue-print
Riset

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) menjadi momentum yang tepat untuk merenungkan kembali peran Guru Besar dalam pembangunan nasional. Saat ini jumlah Guru Besar di Indonesia ada 4.486 orang atau 2,26 persen dari jumlah dosen di Indonesia.

 

“Kunci utama kemajuan suatu bangsa terletak pada kualitas dan peran sumberdaya manusianya termasuk Guru Besar. Ada empat ribu lebih Guru Besar di Indonesia, namun sejauh mana peran Guru Besar tersebut dalam memenuhi harapan publik. Tidak semua ide yang menurut Guru Besar benar bisa langsung diadopsi dalam kebijakan pemerintah. Padahal investasi negara terhadap Guru Besar itu sangat besar,” ujar Ketua Dewan Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof.Dr. Muh. Yusram Massijaya, dalam jumpa pers peringatan Hardiknas di Kampus IPB Baranangsiang Bogor, (1/5).

 

Menurutnya, sebagian dana yang digunakan untuk menghasilkan Guru Besar tergolong dana publik, baik dari pemerintah atau pun sumber-sumber dana publik lainnya. Berkat itu semua, saat ini bidang kepakaran yang dikuasai oleh para Guru Besar sudah sedemikian luas dan dalam. Hampir semua permasalahan bangsa bisa dipecahkan lebih mudah jika Guru Besar dengan kepakarannya dilibatkan.

 

Apabila peluang ini tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh negara, ada kekhawatiran bahwa para Guru Besar akan lebih tertarik untuk berkarya di luar negeri seiring dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Harus dibentuk lembaga khusus untuk mengelola semua potensi yang dimiliki oleh para Guru Besar.

 

“Sekarang sudah banyak permintaan mengajar di luar negeri. Ini berbahaya karena belum ada larangan bagi Guru Besar untuk berkarya di negara lain. Nanti semua profesor kita diambil, kita akan rugi. Pemerintah harus manfaatkan ini. Bukan hanya soal uang tapi penghargaan. Jadi kita ini kalau tidak dihargai di negeri sendiri maka lama-lama akan goyang juga. Saya tidak melihat ada usaha yang serius dari pemerintah. Kami hanya bantu pemerintah untuk melihat kondisi ini,” ujarnya.

 

Kekhawatiran Guru Besar akan lebih tertarik untuk berkaya di luar negeri karena ada beberapa faktor, salah satunya “keribetan” dalam administrasi pelaporan keuangan dalam riset. Menurut Prof. Yusram, ini adalah bentuk ketidakpercayaan negara terhadap Guru Besar.

 

“Publikasi Guru Besar Indonesia terbilang rendah karena kita disuruh berjuang dengan bambu runcing, sedangkan di negara lain diberi senjata otomatis. Kondisi ini kita siasati dengan jalin kerjasama dengan pihak luar,” tuturnya.(zul)