Bicara Hasil Samping Industri Biodiesel Di Konferensi Nasional 2007 Biodiesel LPPM IPB

Bicara Hasil Samping Industri Biodiesel Di Konferensi Nasional 2007 Biodiesel LPPM IPB

Berita

Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi atau Bioenergy Alliance Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) IPB bekerjasama dengan Departemen Perindustrian menyelenggarakan Konferensi Nasional 2007 dengan judul Pemanfaatan Hasil Samping Industri Biodiesel dan Industri Etanol Serta Peluang Pengembangan Industri Integratednya, bertempat di Hotel Mulia Senayan Jakarta, (13/3).

Acara yang diikuti ratusan peserta dari berbagai institusi pendidikan, instansi pemerintahan, lembaga-lembaga penelitian serta berbagai korporasi ini menghadirkan nara sumber dari berbagai kalangan. Secara garis besar, narasumber membahas berbagai hal terkait pengembangan industri biofuel, mulai dari aspek peluang dan pengembangan hingga berbagai kajian yang mendukung upaya pengembangnnya seperti Kajian Produksi Etanol dan Biodiesel, Aplikasi dan Potensi Biofuel dan By Productnya, CDM dan Industri Biofuel Terintegrasi, hingga Kajian Pemanfaatan Gliserol.

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Ahmad Ansori Mattjik pada sambutan pembukaan, mengharapkan hasil samping dari pengelolaan limbah ini bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Lebih lanjut ditambahkannya, IPB yakin bahwa pertanian dalam arti seluas-luasnya akan membawa pada kesejahteraan masyarakat. “Mari kita berpikir bersama untuk mensejahterakan petani diantaranya bagaimana memanfaatkan limbah-limbah Biodiesel, “ tegas Rektor.

Direktur Jendral Indusrti Agro dan Kimia, Departemen Perindustrian, Ir. Benny Wahyudi, MBA yang berkesempatan hadir dalam acara tersebut menandaskan, “Pemerintah mengharapkan adanya sinergi penelitian-penelitian dan upaya pengembangannya khususnya antara perguruan tinggi, lembaga sosial, dunia usaha khususnya pertanian dalam meneliti limbah industri Biodisel. “

Konferensi Nasional 2007 tentang Biodiesel ini merekomendasikan tiga hal:

Pertama, peningkatan peran Perguruan Tinggi untuk melaksanakan penelitian yang lebih terarah dan sekaligus pengembangannya. Terutama dalam peningkatan produktivitas tanaman, penanggulangan hama dan teknologi proses. Pendanaan penelitian dapat diupayakan malalui kemitraan terpadu dengan Industri yang mempunya kesamaan kompetensi dan juga melalui partisipasi Pemerintahan melalui penganggaran penelitian. Disamping itu, Perguruan Tinggi diminta melakukan peran aktif dalam pelatihan-pelatihan pada Industri ataupun kelompok-kelompok yang berminat dalam pengembangan Industri Biodisel.

Kedua, kebijakan pemerintah lebih diarahkan pada hal-hal yang mempercepat tumbuhnya Industri Biodisel, terutama dalam hal kebijakan intensif untuk investasi dalam Industri Biodisel, peninjauan kembali masalah PPN untuk produk-produk biodisel yang pemanfaatannya untuk kepentingan lokal, jaminan kepastian pasar untuk UKM dan membuka peluang untuk dapat memasarkan pada BUMN serta konsistensi pemerintah dalam kebijakan penyediaan lahan kebun energi (dedicated areal).

Ketiga, mempromosikan kesempatan bisnis yang timbul akibat pembukaan lahan perkebunan menjelang tahun 2010, hal ini untuk mencegah terjadinya bisnis benih atau bibit yang tidak berkualitas. (fir/nUr)