IPB-UNIPA Bentuk Pasar Perikanan di Papua
Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Negeri Papua (UNIPA) membantu pembentukan pasar perikanan di Papua melalui Program Pengembangan Perikanan dan Pertanian Terpadu (P4T). Program ini merupakan kerjasama IPB dan UNIPA dengan Tangguh LNG, Pemerintah Daerah Papua serta British Petroleum (BP).
“Sekarang sudah menginjak tahun kedua pelaksanaan P4T. Tahun 2006 kemarin, kita melakukan survei potensi sumberdaya pertanian dan perikanan Papua yang bisa dikembangkan,” kata salah satu Tim P4T Dr Sulistiono Kamis (8/2) di Kampus IPB Darmaga.
Dari hasil survei sementara, IPB-UNIPA akan membentuk pasar yang menampung produk kepiting bakau di daerah Bintuni, membantu kontinuitas pasar kepiting bakau di Babu dan pengadaan pasar produksi udang di Aranday.
“IPB berniasiasi mencoba menambah jalur-jalur pemasaran dengan bekerjasama dengan berbagai CV dan membuat outlet di beberapa tempat,” jelas Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Pembentukan pasar ini sebagai upaya peningkatan kesejahteraan dan nilai tambah bagi masyarakat setempat. Selama ini, masih banyak masyarakat yang memanfaatkan hasil perikanan dan pertanian untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan belum mau menjualnya.
Tim P4T yang diketuai Dr Hardinsyah ini beranggotakan Dr Titik Sumarti, Dr Sulistiono, Dr Djuara P Lubis, Dr Achmad Fachrudin, Dr Saiful Anwar, Dr.Winarso Drajat Widodo , Dr Asnath M Fuah dan dibantu tim relawan yang berasal dari IPB dan UNIPA. Salah satu relawan asal Papua, Moses Wakum mengisahkan suka dukanya melaksanakan tugas sebagai relawan.
Menurut Moses tak jarang masing-masing Kecamatan (distrik) memiliki adat dan bahasa yang berlainan. Perlu waktu beradaptasi dengan masyarakat sekitar untuk memahami seluk beluk adat, bahasa, kebiasan, pantangan, larangan dan diterima masyarakat.
“Cara efektif mendekati masyarakat adalah berkunjung ke setiap rumah penduduk satu per satu. Bergaul, berdiskusi dan mengenal mereka dari dekat akan membuat mereka menerima kita dengan baik,” ujar Moses.
Metode mengumpulkan penduduk di tempat tertentu kemudian diberikan pengarahan merupakan cara yang kurang efektif. Dari pengalamannya di Distrik Aranday, Moses menuturkan, sebanyak 88 kepala keluarga yang diundang, hanya 10 orang yang hadir memenuhi undangan.
Agar semua warga mau hadir, lalu Moses berinisiatif medatangi satu per satu rumah untuk diajak berkumpul. Di satu rumah, Moses didamprat habis-habisan sang istri. “Ibu itu bilang, Jangan ajak suami saya kumpul, ia belum makan,” kenang Moses. Menghadapi hal tersebut, saran Moses, kita harus cuek jangan dimasukkan ke hati, karena tipe masyarakat di sana berkarakter agak keras.
Pendekatan lain yang tepat adalah dengan menunjukkan bukti. Masyarakat Aranday belum percaya alat penangkap kepiting yang dibawa IPB lebih baik dari alat tradisional mereka. Oleh karena itu tim relawan melakukan lomba menangkap kepiting. Hasilnya, dengan alat baru yang ditawarkan dari Tim IPB bisa menangkap kepiting jauh lebih banyak. Masyarakat pun tertarik untuk mengganti alat tangkap mereka. (ris)