Penelitian Prospek Kopi Indonesia di Pasar Internasional

Penelitian Prospek Kopi Indonesia di Pasar Internasional

Berita

Sejak tahun 1984 ekspor kopi Indonesia menduduki nomor
tiga tertinggi setelah Brasilia dan Kolombia. Bahkan,
untuk ekspor kopi robusta, Indonesia menduduki
peringkat pertama dunia. Tahun 1997, posisi Indonesia
bergeser menjadi peringkat empat, tergeser Vietnam.

“Pergeseran ini terjadi karena persaingan
ketat antar produsen kopi dan kelengahan Indonesia
dalam mengamati posisinya di pasar kopi
internasional,” ujar Mahasiswa S3 Program Studi
Ekonomi Pertanian Institut Petanian Bogor (IPB), Reni
Kustiari dalam ujian Sidang terbuka disertasi
‘Analisis Ekonomi tentang Posisi dan Prospek
Kopi Indonesia di Pasar Internasional’ Selasa
(30/1) di Kampus IPB Darmaga.

Peningkatan posisi Vietnam didukung produktivitas kopi
yang tinggi yakni 3.5 ton per hektar, sementara
Indonesia hanya sekitar 900 kilogram per hektar.
Sebagian besar ekpor kopi Indonesia adalah jenis kopi
robusta (93 %). Jenis kopi arabika, yang harganya
lebih mahal, hanya sebagian kecil.

Menurut Reni, berdasarkan hasil penelitiannya struktur
pasarkopi dunia mendekati struktur pasar persaingan
sempurna.Terdapat keterkaitan antara harga di tingkat
produsen, harga pasar domestik, harga di tingkat
pengekpor dan di tingkat dunia.

“Pasar Amerika Serikat, Jerman, Jepang dan
Singapura merupakan pasar yang prospektif untuk
meningkatkan volume ekpor kopi robusta, sedangkan
Italia meningkatkan ekspor kopi arabika,” kata
Reni.

Peluang untuk meningkatkan volume ekspor kopi
sangrai Indonesia ke Jepang, Malaysia, Kanada,
Perancis, dan Inggris masih terbuka. Negara Jepang,
Malaysia dan Rusia merupakan pasar yang potensial
untuk meningkatkan volume ekspor kopi terlarut dari
Indonesia. Penelitian ini dibawah bimbingan Prof
Isang Gonarsyah, Dr Hermianto Siregar, dan dr Pantjar
Simatupang. (ris)