Teknologi Pemuliaan Tanaman Seperti Tim Sepakbola (Dua Guru Besar Pemulian Tanaman IPB, Purnabakti)
Prof G.A Wattimena dan Prof Sarsidi Sastrosumarjo, dua guru besar pemulian tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan orasi purnabakti Selasa (1/8) di Auditorium Thoyyib Fakultas Pertanian Kampus IPB Darmaga. Di hadapan ratusan peserta dua guru besar itu bergantian berorasi. Giliran pertama, Wattimena membawakan orasi bertajuk ‘Kecenderungan Marjinalisasi Peran Kultur Jaringan dalam Pemuliaan Tanaman’.
Kata Wattimena, metode pemuliaan ada tiga cara yakni konvensional atau klasik, kultur jaringan dan bioteknologi molekuler. “Sampai saat ini orang tetap percaya bahwa bioteknologi molekuler menjadi harapan dunia masa depan untuk mencukupi pangan, sandang, papan dan mendukung lingkungan lestari terbebas dari pencemaran,” ujar Wattimena. Kondisi ini juga melanda Indonesia, balai-balai penelitian pertanian mengeluarkan investasi yang besar untuk peralatan, dana penelitian, sumberdaya manusia ke bioteknologi dan mengabaikan peran kultur jaringan di dalam pemuliaan tanaman. Bahkan ada yang lebih mengutamakan penelitian di bidang bioteknologi molekuler.
Menurut Pioner pemuliaan dan bioteknologi tanaman Indonesia ini, teknologi pemulian tanaman layaknya tim kesebelasan sepakbola. Teknologi satu sama lain sangat erat dan menunjang keberhasilannya. “Metode pemuliaan kultur jaringan seperti pemain lini tengah pada suatu tim sepakbola, dimana pemain lini belakangnya adalah metode pemuliaan klasik dan strikernya metode pemuliaan molekuler,” jelas pria yang pernah mengambil program S2 dan S3 Pemulian Tanaman serta Fisiologi Tanamana di University of Wisconsin Madison USA.
Sarsidi menambahkan hasil-hasil pemanfaatan teknologi pemuliaan tanaman seperti varietas kacang tanah tahan penyakit bercak daun dan layu, cabai tanah penyakit antraknosa, kedelai dan pepaya pewaris sifat toleran terhadap cahaya rendah. Pria kelahiran Surakarta ini termasuk orang pertama yang mengembangkan penelitian tanaman gandum di Indonesia.”Penelitian gandum diawali dari disertasi yang saya lakukan dan terakhir saya terlibat dalam Program IPB untuk pengembangan Gandum Lahan Kering Dataran Rendah,” tutur Bapak dari 4 orang anak ini. Program tersebut diatarbelakangi konsumsi gandum yang semakin meningkat dengan volume impor mencapai 4 juta ton per tahun. Tujuannya adalah untuk merintis budidaya gandum di Indonesia sehingga mengurangi impor gandum Indonesia.
Usai orasi kedua purnabakti tersebut meluncurkan masing-masing Buku ‘Bioteknologi Dalam Pemuliaan Tanaman’ oleh Wattimena dkk dan buku ‘Sitogenetika Tanaman’ oleh Sarsidi.
Acara kemudian dilanjutkan Seminar Nasional Bioteknologo Pemuliaan Tanaman 2006 bertema ‘Sinergi Bioteknologi dan Pemuliaan dalam Perbaikan Tanaman’ di tempat sama selama dua hari. Lebih dari 50 peneliti seluruh Indonesia akan mempresentasikan hasil penelitiannya yang terbagi dalam 3 kelompok besar secara bergantian. (ris)