Kekeringan dan Perlunya Penyuluh Pertanian
Kondisi kekeringan yang terjadi puso (gagal panen) seperti sekarang, bukanlah salah musim tapi salah yang menanam. Pakar Hydrology Institut Pertanian Bogor (IPB) Hidayat Pawitan, Ph.D., mengemukakan hal itu saat diskusi dengan wartawan di Kantor Prohumasi Kampus IPB Darmaga, Selasa (18/7).
Kesalahan menanam ini, lanjutnya, dikarenakan tidak adanya informasi yang diperoleh para petani perihal cocok tidaknya masa tanam pada musim yang berlangsung. Padahal menurutnya, informasi mengenai hal itu telah tersedia di lembaga teknis yang ada, hanya saja tidak sampai ke petani.
Karena itulah, kata Hidayat, perlu dihidupkan kembali Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang dalam sepuluh tahun terakhir ini keberadaannya ”sudah menyusut” dan berubah fungsi. ”Untuk Indonesia PPL masih sangat efektif, karena bisa menyampaikan informasi secara langsung kepada para petani. Karenanya saya menyambut baik program pemerintah yang akan menghidupkan kembali PPL,” ujar Hidayat.
Berkaitan dengan hal ini, Hidayat menuturkan, pihaknya telah melakukan kajian mengenai penyebaran daerah rawan kekeringan untuk tanaman padi di Indonesia. Dikatakan, sebagian dari hasil kajiannya tersebut telah diimplementasikan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) dan Departemen Pertanian, yakni dengan mengembangkan Sekolah Lapang Iklim bagi petani.
”Di Indramayu misalnya, Sekolah Lapang Iklim secara intensif melakukan pembinaan kepada para petani agar bisa lebih memahami aspek iklim dan bisa memanfaatkannya,” kata pakar Hidrologi pada Laboratorium Hidrometeorologi Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA ini.
Pada bagian lain Hidayat mengatakan, perubahan pola kekeringan saat ini terjadi begitu cepat. Hal ini dikarenakan perubahan penggunaan lahan dari hutan ke non-hutan, ataupun perubahan pertanian ke pemukiman juga terjadi sangat drastis, dan ini terjadi di banyak tempat di Indonesia.
Perubahan penggunaan lahan dalam skala besar, jelas Hidayat, berpengaruh pada pola hujan yang berubah dan jumlah air hujan yang berkurang. ”Meski demikian, pihak terkait sepertinya belum melakukan apa-apa untuk mengevaluasi perubahan pola ini. Padahal, evaluasi perlu dilakukan untuk dapat dikoreksi secepatnya,” tegas Hidayat.
Saat ditanya apa yang harus dilakukan untuk menyikapi pola perubahan tersebut, Hidayat menjawab salah satunya adalah dengan melakukan penghijauan. Selain itu, perlu adanya sinergitas antara akademisi dan pemerintah selaku pengambil kebijakan. (NM)