Di Tangan Mahasiswa IPB Limbah Buah Naga Disulap jadi Fungisida

Di Tangan Mahasiswa IPB Limbah Buah Naga Disulap jadi Fungisida

di-tangan-mahasiswa-ipb-limbah-buah-naga-disulap-jadi-fungisida-news
Riset

Saat ini banyak konsumen yang menaruh perhatian lebih terhadap efek samping dari bahan sintetis yang banyak masuk ke berbagai aspek kehidupan. Makanan, minuman, kosmetik dan lain sebagainya merupakan segelintir dari banyaknya industri yang menggunakan bahan sintetis dalam pembuatan produknya. Tetapi kini industri pun berlomba-lomba untuk menarik para konsumen tersebut, agar menjadi segmen pasar dengan mengembangkan produk berbahan alami.

Melihat peluang tersebut sejumlah mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) membuat sebuah program penelitian fungisida melalui Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKM-P) yang diadakan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI) setiap tahunnya.

Terinspirasi dari kepopuleran buah naga di Indonesia, dimana banyak sekali produk yang berbahan dasar buah naga yang kemudian menghasilkan sampah organik yang menggunung. “Kami melihat bahwa setiap satu pohon buah naga dapat menghasilkan satu kilogram sulur yang tidak produktif yang perlu dipotong dan dibuang,” ujar Akbar sebagai ketua kelompok.

Buah naga (Hylocereus sp.) merupakan tumbuhan kaktus yang berasal dari Meksiko dan Amerika. Tumbuhan ini banyak dibudidayakan di Indonesia terutama buah naga berdaging merah (Hylocereus polyrhizus dan Hylocereus costaricensis) dan berdaging putih (Hylocereusundantus). Buah ini banyak dibudidayakan di Pulau Jawa, Riau, Lampung dan Lombok. Pohon buah naga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk tumbuh dan menghasilkan buah setelah 10-12 bulan.

Penelitian yang dilakukan di Laboratorium Mikologi Tumbuhan IPB ini memanfaatkan sulur buah naga yang telah dikeringkan lalu diekstrak dengan metode maserasi (perendaman suhu ruangan dengan pelarut tertentu) dimana setelah ditemukan konsentrasi yang tepat maka akan dilakukan pengujian terhadap cendawan patogen. Senyawa flavonoid yang terdapat pada sulur buah naga berpotensi menghambat pertumbuhan cendawan parasit yang merupakan sasaran dalam proses ekstraksi.

Tim PKM yang terdiri atas Akbar Sukma Pratama, Gecci Dwi Prasetyo dan Nuraini Firma Ardianti yang terbentuk melalui kesamaan organisasi kampus ini  berharap bahwa limbah sulur yang dihasilkan dari kebun buah naga dapat dimanfaatkan dengan baik, karena hingga saat ini belum ada pengolahan lebih lanjut mengenai hal itu. Sehingga pada akhirnya hanya terbuang dan menumpuk saja. Selain itu juga tim ini berharap bahwa penelitiannya dapat menjadi sumber informasi mengenai sumber fungisida berbahan alami.(GG/NM)