Peneliti AS Kembangkan Metode Bioteknologi Bebas Hak Paten

Peneliti AS Kembangkan Metode Bioteknologi Bebas Hak Paten

Berita

Komoditi pertanian hasil kemajuan bioteknologi tidak berbahaya untuk dikonsumsi .” Selama lebih dari 15 tahun pemanfaatannya, belum ada penelitian yang menemukan bahwa komoditi pertanian hasil bioteknologi yang disetujui pemerintah Amerika Serikat berbahaya bagi manusia dan hewan,” ungkap Elizabeth Weise, Science Writer USA Today, Kamis (28/9) di Ruang Pertemuan South East Asia Food and Agriculture Science Technology Institut Pertanian Bogor (SEAFAST IPB) di Kampus Darmaga. Elizabeth berkunjung ke IPB atas undangan SEAFAST IPB.

Yang ada adalah laporan dari pihak orang yang tidak setuju , mereka mengatakan hasil pertanian bioteknologi membawa bahaya bagi manusia. Namun sejauh ini belum terbukti.

Elizabeth mengatakan hasil pertanian transgenik pertama kali dikomersilkan di China . Di Amerika Serikat, komoditi pertama transgenetik yang pertama kali di komersilkan adalah kedelai tahan terhadap herbisida glyphosate. Kedelai ini dijual di AS sebagai Round-Up. Keuntungan petani menanam kedelai ini, ketika gulma baru tumbuh, petani cukup menyemprot herbisida glyphosate, yang akan membunuh setiap tanaman yang tidak tahan terhadapnya.

“ Dengan cara ini, petani tidak harus melakukan penyiangan intensif untuk menghancurkan gulma dan rumput-rumput liar. Cukup menyemprot herbisida,” kata Elizabeth . Tanaman lain yang dikembangkan adalah tanaman yang telah disisipkan gen bakteri Bacillus thuringiensis (Bt). Selain kedelai tahan herbisida glyphosate, tanaman hasil bioteknologi di AS antara lain kapas dan jangung yang disisipi Bt, pepaya dan ketela yang tahan virus.

Dia menyebutkan, sepuluh negara dunia terbesar yang telah mengembangkan komoditi pertanian dengan bioteknologi yakni USA (49.8 juta hektar), Argentina (17.1 juta hektar), Brazil (9.4 juta hektar), Canada (5.8 juta hektar), China (3.3 juta hektar), Paraguay (1.8 juta hektar), India (1.3 juta hektar), Afrika Selatan (0.5 juta hektar), Uruguay (0.3 juta hektar), dan Australia (0.3 juta hektar).

Sayangnya kemajuan bioteknologi ini sulit diakses oleh para petani kecil di Asia , Afrika dan Amerika Selatan. Hal ini karena hampir semua metode yang digunakan untuk menciptakan tanaman bioteknologi telah dipatenkan oleh perusahaan-perusahaan besar. “Jika seseorang ilmuwan menciptakan tanaman padi tahan musim kemarau dengan menggunakan perangkat ini, perusahaan harus membayar royalty saat benih dijual. Itulah sebabnya tanaman bioteknologi memakan biaya besar,” keluh Perempuan yang sudah enam tahun menghabiskan waktunya di the Associated Press.

Itulah juga yang menjadi alasan mengapa sedikit jumlah tanaman bioteknologi yang diciptakan negara-negara berkembang, karena banyak
negara yang hanya ingin mengeluarkan uang untuk mengembangkan tanaman yang mereka anggap dapat menghasilkan keuntungan.

Lanjut Perempuan yang belajar bahasa Cina dan Swedia di The University of Washington, para ilmuwan Amerika Serikat sedang bekerja menciptakan metode yang bebas dan tersedia agar dapat digunakan oleh para peneliti diseluruh dunia tanpa harus ada ketentuan untuk membayar royalty atas tanaman yang mereka ciptakan. “ Proyek ini diharapkan dapat terus berjalan sehingga tanaman bioteknologi yang dapat membantu petani-petani kecil di Asia , Afrika, dan Amerika Selatan tersedia dengan harga terjangkau bagi mereka,” harapnya. (ris)